Kamis, 21 Oktober 2010

Namanya Bob si Penemu


Ya, namanya Robert Kearns, di lingkungannya dia biasa dipanggil Bob. Kisahnya diangkat dari dunia nyata, dalam sebuah kolom di NEW YORKER, ditulis oleh John Seabrook. Tahun 2008 di angkat ke Layar Lebar -dengan titel yang sama dengan judul artikel itu : Flash of Genius - disutradai oleh Marc Abraham.

Hingga suatu kejadian pada tahun 1953, Bob yang ahli fisika dan elektronika, hampir saja buta karena tutup sampanye yang dibukanya melompat dan hampir mengenai mata kanannya. Dan Bob bersyukur, Tuhan menciptakan "mekanisme" mata : bisa berkedip. Hingga suatu ketika, ketika dia berkendara dengan Ford Galaxy-nya saat hujan turun ringan, dia berfikir : alangkah enaknya bila wiper (karet pengahpus kaca) bisa berkedip sesuai keinginan kita (intermitent), seperti kedip mata kita.

Dari sinilah semua kisah berawal. Dengan kepandaiannya, diciptakanlah sebuah sirkuit yang memungkinkan wiper bisa berkedip secara intermitent, tidak konstan seperti umumnya wiper pada jaman itu. Dibantu rekannya, Gil Previck-pemilik Previck Motor Industries, dipatenkannya penemuan itu : dan ditawarkannya ke mogul otomotif pada jaman itu : FORD Motor Co.

Ford, lewat eksekutifnya, Macklyn Tyler menyetujui kerjasama tawaran itu, meminta Bob mengirim sampel dan perkiraan biaya dan harga. Setelah berjabat tangan, lalu tak ada kabar hingga tiga bulan kemudian, saat Bob secara tak sengaja menemukan bahwa penemuannya dipasang dan dijadikan nilai jual untuk Ford Mustang yang baru dirilis saat itu.

Bob berang dan meradang. Ford ingkar janji.

Tapi kisah penemu dan dibohongi industri bukan kisah sekali ini saja. Bob belajar dan mencerna. Dia tetap meradang, dan setelah sekian lama perjuangan : pengacara yang ditunjukknya bernegosiasi, memberikan kabar Ford menawarkan "damai" dengan membayar 250ribu US Dollar, tapi tak mau meminta maaf atau mengakui bahwa "intermittent wiper" adalah penemuan Bob.

Bob makin meradang, dan pengacaranya patah arang : hingga mengundurkan diri.

Bertahun-tahun, setelah sempat berobat ke sebuah Rumah Sakit Jiwa di Maryland,menggantungkan hidup dari Jaminan Sosial Negara, berada dalam cibiran banyak orang, ditinggalkan istri yang selalu mendampingi : Bob tetap berjuang. "Ini bukan sekedar masalah uang", demikian katanya.

Hingga bertahun-tahun tanpa kepastian, Bob tetap berjuang melanjutkan persoalan ini ke Pengadilan. Pihak Ford, dalam proses di luar pengadilan, menawarkan hingga 30 juta US Dollar : asal Bob mau tutup mulut dan tak melanjutkan kasusnya. Tapi, Bob, yang didukung anak-anaknya tetap maju, dan tak mau menerima tawaran itu. Ini bukan masalah uang.

Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan menyakitkan, Bob yang tak didampingi pengacara, melawan raksasa otomotif FORD dengan segala kekuatannya : Bob memenangkannya. FORD harus membayar 10 juta dollar, dan belakangan Chrysler Motor Co juga membayar 18,7 juta dollar : atas pemakaian paten milik Bob secara illegal.

Bob memenangkan peperangan dengan idealisme dan konsistensinya.

Berkacalah dari Bob. Berapa gelintir dari kita yang hidup dipenuhi dengan idealisme dan konsistensi ? Iming-iming uang dan jabatan seringkali jadi peluntur utama. Perjuangan kita tak pernah sungguh-sungguh akan bermakna kemenangannya karena tak ada idealisme dan konsistensi.

Banyak dari kita pergi bekerja hanya karena kita takut pada aturan kantor, atau bahkan takut pada bos yang sering duduk di seberang meja kita. Kita takut ketika diancam tak naik jabatan, tak naik gaji atau dikeluarkan. Kita hanya jadi "kerbau penurut" yang bergerak ke kiri atau ke kanan karena atasan kita yang menyuruhnya.

Kita lupa, bahwa Tuhan mendukung idealisme dan konsistensi kita. Bob sudah jadi contohnya.

Maka, mulai hari ini : temukan lagi idealisme dan konsistensi kita. Percayalah bahwa rejeki tak datang secara cuma-cuma, atau datang karena perintah bos kita. Rejeki datang karena kita sendiri yang memperjuangkannya. Hidup ini bukan sekedar uang -mengutip kata Bob- dan saya percaya.

Semoga anda juga percaya.

Belajar dari Teman saya, Rudi


Profilnya cukup kondang sekitar lima tahun lalu. Majalah atau suratkabar mana yang tidak memuat sosok gagahnya, dengan jas dan dasi, menerima berbagai penghargaan atas prestasi yang cukup moncer dalam bidang pemasaran. Lima belas tahun dia berkarir di perusahaan hebat itu, dan kirinya melesat cepat.

Sebut saja, sahabat saya ini, namanya Rudi. Kemarin sore sosoknya kelihatan jauh berbeda dengan penampilannya di media beberapa tahun silam. Kurus, dengan muka tirus pucat pasi : menghapus semua kesan sukses yang melekat di parasnya. Dia terbaring sakit. Kata sang istri, Rudi menderita sering sakit setelah berbagai usaha yang dijalaninya gagal, dan membawa ke jurang kebangkrutan. Dalam sakitnya, Rudi masih sering bangga dengan prestasi masa lalunya, dan itu yang memperparah keaadannya.

Rudi adalah sosok berprestasi di perusahaannya, dulu. Beberapa peluncuran produk baru yang ditanganinya hampir selalu sukses. Dia organisatoris yang baik, jangkauan "kuasanya" adalah memanajemeni hampir 25 orang anak buah yang sudah terkenal handal. Kombinasi yang pas : bos yang hebat, anak buah yang handal dan perusahaan (dengan merek produk) yang kondang.

Hingga saat itu tiba. Perusahaan tempatnya bekerja diakuisisi oleh sebuah mogul bisnis mancanegara. Rudi, tak seiring dengan bos barunya, dan memutuskan mengambil program pensiun dini : dengan penuh keyakinan akan keberhasilan, berbekal reputasinya di masa silam.

Hidup yang baru sudah dimulai.

Dalam kurun lima tahun terakhir, dengan uang pensiun dini yang didapatnya, dijalaninya beberapa usaha. Joint dengan teman-teman atau bekerja sendiri. Dari distributor produk perusahaannya dulu yang kemudian hancur lebur, hingga -saat jatuh sudah sampai dasar- Rudi berkeliling berjualan sepatu di event-event musiman.

Nyaris, tak ada lagi bekas kepiawaiannya yang dulu banyak diganjar penghargaan.

Rudi, jatuh dalam jurang kekecewaan yang dalam. Jangankan mantan atasan, tak seorangpun mantan anak buah yang dulu disebut handal : datang menengok dan memberinya semangat. Hanya istrinya yang setia menemani dan terus memompanya dengan semangat. Rudi jatuh dalam penyesalan, bahwa apa yang telah diputuskannya salah besar. Dia merasa telah kehilangan kuasa, teman dan dukungan merek terkenal (yang dulu didapatnya dari perusahaan).

Mendapatinya kini dengan badan kurus, mka tirus dan pucat : saya sangat iba.

Dapatkan kita tarik sebuah pelajaran dari Rudi, yang manager penjualan hebat dari sebuat perusahaan terkenal itu. Dulu, semua meng-elukannya, bos, anak buah, teman dan relasi. Dulu semua memuji dan menghargai; tapi kini dia terseok di pojok yang sepi.

Sering dalam kehidupan, kita terlena akan sebuah "penghargaan semu". Cobalah berkaca, jabatan kita di kantor membuat atasan kita memuji dan anak buah kita menghargai. Semua klien menerima kita dengan besar hati.

Tapi, apakah sikap itu ditunjukkan pada kita : sebagai diri kita sendiri? . Prestasi kita sebenarnya adalah prestasi dari perusahaan atau produk yang kita tangani.

Kita dibelenggu oleh prestasi masa lalu, dan celakanya. banyak dari kita hanya bangga saja dengan masa lalu, tanpa tahu masa depan akan seperti apa. Sehingga banyak kesempatan besar di depan mata, dibiarkan lewat begitu saja.

Di dunia nyata, banyak penghargaan semu menjebak kita. Rudi buktinya. Kehandalannya "tidak berbunyi" ketika dia berada di luar sana. Dan cobalah kita ber-introspeksi, berapa banyak sahabat dan teman, yang kita ciptakan bukan dari kaitan pekerjaan kita di kantor. Berapa besar peran kita di dunia nyata, karena "diri kita sendiri", tanpa embel-embel jabatan, kehebatan anak buah, ketenaran perusahaan atau kekondangan merek produk yang kita pasarkan.

Kenyataan hidup tersulit adalah menjadi diri sendiri, dan keluar dari banyak "bayang-bayang" masa lalu. Sebelum semua terlambat -seperti Rudi- adalah baik memulai keluar dari berbagai "bayang-banyak" itu sedari dini.

Pasarkan keahlian atau produk anda sendiri dari kini, InsyaAllah, peluang anda sukses akan lebih cepat ketimbang menunda nanti-nanti. karena pada dasarnya kita hidup di masa kini untuk masa depan nanti. Selamat menjadi diri anda sendiri.

Semoga menginspirasi.

Dia bukan Dom Cobb si Pencuri Mimpi...


(ditulis sebagai salut untuk sahabatku : Handry Satriago)
Mengingat dia, saya teringat pemikiran "perlawanannya pada kemapanan" yang dikutip oleh Takashi Shiraisi dalam bukunya "Age of Motion"-puluhan dekade silam. Dia seperti seorang Tjipto Mangunkusumo, tapi dia bukan keturunan Jawa.
Tampil berkursi roda, dengan rambut gondrong kriwil dan jins sobek adalah sebuah "pembangkangan" bagi tradisi "tampilan anak kuliahan" di kampus kami dulu. Nama Handry Satriago, lebih senang dipanggil Agogo.
Jumat lalu, dengan suaranya yang khas: berat, lantang dan jernih, dia memukau kami -undangan yang hadir dalam pengukuhan gelar Doktor Stratejik Manajemen di FEUI- sekali lagi, dengan cara berfikirnya yang selalu berbeda dengan kebanyakan dari kami teman sebayanya.
Mengingatnya dulu, adalah mengingat masa-masa badung dan perlawanan dari rumah kontrakannya di -kami menyebutnya - "kamp H-14". Masa-masa menulis poster dan pamflet, mengagumi puisi Rendra dan berteriak mengimbangi "jeritan" Billy Joel dari tapedeck Sony-nya.
Dia adalah sutradara operet di malam kesenian angkatan kami, dengan gayanya yang terinspirasi Nobertus "Nano" Riantiarno. Dia akhirnya menjadi simbol gerakan "berbeda adalah hal yang biasa". Dia, yang akhirnya botak karena serangkaian proses kemoterapi, menjadi ikon di angkatan kami.
Dan hidup selalu berpihak pada orang yang punya mimpi besar. Ditulis di pengantar Disertasi doktoralnya " ...limitations can happen anywhere in the journey of life, but dream has to be pursued to make it come true". Prestasinya sudah melampaui kami yang dulu ikut menggendong-nya dari lantai dasar, menaiki tangga, ke laboratorium Gamtek di Lantai 4 kampus Fateta. Pencapaian mimpinya sudah jauh melampaui kami yang dulu, masih sama-sama miskin, ikut "urunan" beli soto kuning berkuah melimpah sedikit daging di depan "kamp H-14". Karena memang sejak mula, mimpinya sudah jauh lebih tinggi dari kami, para mahasiswa lurus dan biasa saja : yang diajaknya menjadi "pembangkang dari pemikiran yang biasa saja". Bahkan dalam tingkatan karier, "perlawanannya pada kemapanan berfikir biasa-biasa" membawanya pada level yang sangat tinggi : Presiden of GE Indonesia; pimpinan tertinggi di Indonesia sebuah perusahaan kelas wahid dunia.
Maka, barangkali Jumat 23 Juli 2010 kemarin menjadi sejarah besar bagi kami teman-temannya. Sudah banyak diantara angkatan kami yang menjadi doktor atau sejenisnya, tapi Agogo sudah membuktikan bahwa mimpi yang besar sudah mengalahkan segala rintangan : dan itu menjadikannya sebuah sejarah besar.
Maka mengutip kata-kata Dom Cobb (Leonardo Di Caprio) dalam film INCEPTION (2010) :" If you think that you can't get what you want in your reality life so just dreams about it, keep dreaming, until you wake up and you feel happy about it. So, just build your dreams like horizon...."
Bro Handry Agogo: saya kira anda bukan Dom Cobb, tapi itulah kata-katamu dulu. Saya harus berterima kasih pada Tuhan mempertemukan kita dalam sebuah "persimpangan jalan", di tengah banyak "persimpangan jalan" lain yang mempertemukan saya dengan orang-orang dengan banyak kelebihan tapi hanya bisa mengeluh berkepanjangan.
Jangan bosan menjadi inspirasi buat kami yang penuh kelebihan ini.

Sabtu, 03 April 2010

Doa Untuk Sebuah Perjalanan (1995)

Gerbang pintu rumah kost-mu senantiasa ramah menyambutku
dentang belnya yang bergema
kibar tirainya putih-putih seperti tak bosannya
dimainkan oleh angin yang denganku sama nakalnya

Tak ada lagi persinggahan lagi bagiku
selain bangku hitam berbunga yang semakin tipis busanya
dengan meja kecil yang berkaca
vas bunganya dulu ada, sekarang entah dimana

Ada beberapa lagi lagi yang sempat kuingat
dering telpon di atas meja sana
suara televisi di bawah ruang tamu kita
dan kamar depan kursi kita (yang engkau tahu milik siapa)

Ocha, selamat pagi..selamat pagi kataku
Hari cerah bukan?
Angin bertiup lembut membelai wajah dan bagian atas rambutmu
seperti waktu itu, saat kita pertama kita ketemu

Jalanan yang becek dulu, sekarang tak ada bedanya
deretan ruang telepon, bank dan warung-warungnya
semakin menjauhkan aku dari kenyataan
bahwa beberapa tahun lalu aku pernah hidup di sana

Dari kebaikan para jurumasak dengan batagor dan soto babatnya
kutemukan arti hidup dan cinta
kutemukan wanita yang memberikan kasihnya
kutemukan orang-orang dengan perhatiannya

Adakah aku sudah cukup berdoa
supaya mereka mendapat balasan dari-Nya
supaya mereka dapat vmenjadi lebih baik hidupnya
atau agar kami, engkau dan aku, dapat melanggengkannya

Bisakah sebenarnya aku hitung dalam silang gemintang
daunan hijau ditingkah riak air danau di perpustakaan
warna pucat lantai di depan laboratorium kita
serta rasa es kelapa yang dijajakan di kantin sapta

Tidak.
Aku hanya menghitung dosen yang pernah mengajarku
aku hanya mengingat dimana praktek lapangku

Dalam deru seru anak-anak mekanisasi
dalam buai bentakan kakak kelas kami
sebenarnya, waktu itu, tak jelas apa yang kami cari
adalah ilmu pengetahuan, atau pelajaran menanti rejeki

Senja pengap di jalan Bara
aroma mie ayam bercampur debu galian
yang dirangsang laju angkot yang berseliweran
dan adik-adik kelas kami yang sibuk memfotokopi

Langit yang cuma sepotong menemani,
bersama sekerat biskuit dan komputer sewaan
untuk sebuah karya yang bernama skripsi
demi sebuah sebutan yang bernama gelar

Di kejauhan orangtua-orang tua kami tersenyum
di sini kami anak-anaknya tertawa-tawa
sambil mengolah data
menjadi tumpukan kerja, yang kami harap nanti berguna

Deret tonggak berlampu natrium
kawat-kawat terentang
menghubungkan suara-suara kita
serta zat asam yang kemudian berubah menjadi zat asam arang
kapankah, engkau Darmaga, bisa menjadi saksi-saksi cinta kita

Ocha, Kini setelah nyaris setengah windu perjalananmu
segala tentang cinta, harapan dan cita-cita
semoga menjadi realita
seperti kibaran tirai, pintu dan kursi yang stia menemani kita

Setelah tahun-tahun berbadai
meneteskan aneka tawa dan duka
suatu saat akan kita torehkan
pesan-pesan alfabetis nama anak-anak kita
pada gelombang yang menyisir pantai
pada langit, angin, sawah dan kota
dengan kerja berat, dengan hati yang kuat
Selamat pagi dunia
Selamat malamku,
Selamatkan siangku,
Tuhanku

---------------------------------------------------
Ditulis sepanjang perjalanan saat perjuangan mengawali masa depan: di Ponytail, di kamp perjuangan MEGATIN dan di Sindangbarang Loji. Darmaga-Bogor, 7 April 1995 (Kami tak pernah tahu, bahwa 3 tahun-lebih 3 hari dari dituliskannya puisi ini : kami menikah)

Sabtu, 13 Februari 2010

Pak ASEP : Di Kedai Kopi Tubruk , dekat stasiun kereta


Saya belum pernah ketemu dengan dia sebelumnya. Biasanya, setiap kali saya nongkrong menunggu kereta di stasiun Dukuh Atas (sekarang namanya stasiun Sudirman), hanya istri dan Hendra –anak laki-lakinya- yang setia menjerang air dan menyeduh kopi tubruk pesanan saya.

Dari kerut-merut kulit di wajahnya, saya taksir usianya tak kurang hampir sepuluh windu panjangnya. Saat itulah dia mulai panjang bercerita-seolah kami berteman lama- bahwa dia – pak Asep yang renta ini – sudah tiga dasawarsa mencoba menaklukan ibukota.

Masa kecil, dilaluinya di lereng sebuah gunung di Tasikmalaya, perlu waktu 3 jam untuk turun ke pasar Singaparna. Dua kali seminggu, lepas pukul dua malam, dia berjalan kaki bersama ayah tercinta menuju pasar untuk berbelanja. Dikisahkannya, sepanjang jalan ayahnya banyak bercerita, berdialog dan menembang beberapa lagu sunda untuk mengisi suasana. Banyak kisah diceritakan, disela peluh yang membasah karena perjalanan yang panjang ke bawah.

Ketika itu-katanya-jaman hidup dengan damainya. Setiap maghrib surau penuh dengan manusia, sholat berjamaah, lalu mengaji bersama. Tak tua, tak muda. Jaman itu, tak ada yang punya mobil atau kereta. Harta paling mewah hanya sapi atau kerbau kandang, dan deretan sawah di ujung-ujung desa.
Panen hanya dua kali dalam setahun; dan setiap kali panen ada cukup simpanan beras untuk panen berikutnya. Tak perlu pupuk, tak perlu pestisida. Orang-orang sehat mencapai umur tertuanya, hingga ada yang berumur seratus tahun, katanya. Anak-anak berangkat pagi ke sekolah dengan riang, bertelanjang kaki melewati ratusan petak sawah gembira. Hidup tak ada yang menderita.

Kini jaman sudah berubah. Dengan keringat yang diperas, panen padi setahun bisa tiga kali. Tapi heran, tak cukup beras untuk disimpan hingga menjelang panen berikutnya. Pupuk, pestisida makin mahal, dan kebutuhannya melonjak luar biasa. Mengadu nasib di ibukota, tak lagi jauh beda. Dulu, dua dasawarsa lalu, bekerja satu hari bisa untuk makan tiga hari. Tapi kini kebalikannya, memeras peluh tiga hari, hanya cukup untuk hidup satu hari saja.

Di kampung, orang sudah bermobil dan bersepeda yang ada motornya. Rumah sudah bertembok, tak ada lagi atap rumbia. Tapi, maghrib surau dan masjid sepi, karena anak-anak sedang “sibuk mengaji” di depan tivi, menatapi film dan sinetron masa kini.
Anak-anak cepat tumbuh dewasa, tapi orang dewasa lebih cepat mati. Tak ada lagi, kakek atau nenek yang berusia hingga satu abad. Di ruangan tengah rumah bertembok tak ada lagi gurau, canda dan interaksi sanak sebagaimana dulu. Semua orang pergi ke kota, sibuk bekerja. Untunglah masih ada hari Lebaran.
Tekanan jaman, membuat desa pak Asep –katakan begitu namanya- juga dilanda penyakit kota bernama stress dan depresi. Anak-anak kehilangan hormat pada orangtua, anak-anak tertekan oleh lingkungannya. Kabar miris –kisah pak Asep selanjutnya – seorang anak mati bunuh diri karena takut tak lulus ujian negara.

Maka, dari bawah kolong jembatan dekat stasiun Dukuh Atas ini pak Asep –sebut saja begitu namanya – ingin kembali bernostalgia. Memiliki pemimpin yang peduli pada rakyatnya, pemimpin yang bisa menurunkan harga minyak dan beras untuknya, pemimpin yang tak hanya baik saat kampanye dan menjelang pemilu saja.

Dalam perjalanan di dalam kereta ber-AC setelah berpisah dengan pak Asep yang renta, berfikirlah saya yang masih beruntung bisa membeli mie instan buat anak-anak saya, membelikan seragam sekolah dan mainan untuk mereka. Hidup buat pak Asep, dan Pak Asep-Pak Asep lainnya memang sulit kita duga kedalamnya. Kita Cuma bisa bersyukur sambil menduga-duga. (Ditulis di Bogor, 29 April 2009)

Jumat, 12 Februari 2010

Puisi di Malam yang Tua


Dari pelataran taman kencana, yang dulu banyak bancinya
Di temaram jalan raya pajajaran yang sudah sesak dengan toko sedemikian rupa
Dalam pojok warung jambu, dengan gadis-gadis kecil menunggu pelanggan
Sudah kita lewati bersama

Memerdekakan diri dari pelajaran kimia fisika
Melewati mata ujian biokimia dan sebagainya
Mengetahui dunia dari perpustakaan yang suram kehabisan koleksinya
Telah kita lalui bersama

Kini dunia nyata, inilah dunia para pejuang sesungguhnya
melewatkan umur dengan mengejar kereta
menghabiskan waktu di belakang layar komputer yang berpendar
Sudah ada di belakang kita

Kini, dalam seisik angin di teras belakang rumah kita
bersama derik jengkerik dan bunyi katak menjelang hujan
di malam yang makin tua
Kita tak akan tahu, seperti apa nanti hidup kita
Karena kita cuma bisa berusaha


Cimahpar-Bogor, 060210...tepat 00.30
Untuk orang-orang tercinta

Dia Bernama Barbara Padilla


Saya melihat penampilannya tadi malam di Indosiar. Siaran entah kapan, ajang penyisihan America's Got Talent. Saat itu dia belum menjadi siapa-siapa.

Namanya Barbara Padilla.

Penampilannya biasa, siapa yang mengira -belakangan- suaranya sopran-nya bakalan mengguncang dunia. Dia hanya ibu rumah tangga biasa, bahkan dalam caption perkenanlan dengan para dewan juri : hanya disebut seorang ibu rumah tangga yang bekerja di rumah.

Tapi, begitu musik dialunkan, suaranya sungguh luar biasa : kelas soprano kelas dunia.

Kontan, begitu selesai penampilannya : seluruh penonton, bahkan dewan juri memberikan "standing ovation" buat dia. Barbara Padilla.

Dia hanya ibu rumah tangga biasa. Dua mujizat yang baru saja diterimanya, tampil di ajang penyisihan dan lolos ke Las Vegas...serta baru saja sembuh dari penyakit kankernya. Dia lahir 1973 di Guadalajara Mexico. Bertahun menderita semacam kanker darah bernama Hodgkin's Lymphoma. Menjalani serangkaian terapi radiasi dan kemoterapi, membuatnya menerima vonis akan kehilangan pita suaranya.

Tapi dia tidak menyerah, ditemani mimpi-mimpi besarnya.

Hingga suatu ketika, saat dia berobat ke Houston dia mengikuti sebuah audisi di Moore's School of Music di Houston University , dia mendapat berkah : beasiwa penuh hingga tercapainya Gelar Master-nya. Itu semua saat dia berjuang melawan kanker yang dideritanya.

Dukungan suami dan putri empat tahunnya, sungguh menguatkannya.

Barbara Padilla telah memenagkan mimpinya, lagu milik Giacomo Puccini berjudul O Mio Babbino Caro" membawanya memenangkan mimpinya melaju ke Vegas, dan belakangan ikut mengantarkannya menjadi runner up kompetisi ini tahun 2009, setelah kalah suara dari Kevin Skinner, pelantun lagu country dari Kentucky.

Hal paling mengisnpirasi dari Barbara Padilla, adalah jawaban atas pertanyaan Sharon Ousborne, sang Dewan Juri saat ditanyakan bagaimana perasaannya setelah performanya diberi apresiasi luar biasa oleh para penonton di sana...

Dia hanya mengatakan,"Luar Biasa, saya hanya punya HARAPAN, dan HARAPAN itu yang menguatkan saya untuk terus bergerak dengan segala hambatan dan kendala saya".

Barbara Padilla, dengan suara sopran nya, terus mengejar harapannya mengalahkan segala rasa sakit dengan kekuatan mimpinya dan berharap bisa menjadi inspirasi bagi orang yang nanti akan mengenalnya.

Kekuatan mimpi dan harapan telah mengalahkan segala kendala. Satu lagi bukti nyata. Semoga menginspirasi.