Selasa, 28 Januari 2014
PINDAH ALAMAT
Para pembaca blog saya yang budiman, terhitung mulai 1 Januari 2014, BLOG saya ini dipindahkan ke alamat baru : http://basri-adhi.blogspot.com
Semoga tetap setia mengikuti tulisan-tulisan saya, semoga ada manfaatnya.
Terimakasih
Basri Adhi
Kamis, 07 Februari 2013
Surat seorang Ayah untuk Anak-Anaknya
Assalamu'alaikum anak-anakku,
Hari ini matahari ceria, tak seperti kemarin yang selalu bergayut mendung.
Mungkin matahari melihat senyum kalian tadi pagi saat berangkat ke sekolah.
Semoga bahagia harimu hari ini di sekolah, nanti kita nikmati lagi makan bareng di warung tenda sebagaimana tradisi kita di hari jumat.
Anakku, maafkan ayah kalau surat ini mengganggu keceriaanmu.
Mungkin besok atau lusa kita akan jarang bertemu lagi,
kita akan jarang bisa berdebat dan berdiskusi.
Ayahmu punya banyak salah yang harus ditebus.
Maafkan ayah karena selama ini tak bisa membahagiakanmu,
sebagaimana teman-teman kalian yang diantar dengan mobil mengkilap yang interiornya berbau wangi.
Jangankan mobil, untuk memberi uang sakupun ayah sudah tak sanggup lagi
Maafkan ayahmu karena sering menghardik karena kalian malas belajar atau malas sholat,
Karena, Tak ada lagi yang bisa ayah bawa ketika mati selain ilmu yang bermanfaat serta doa kalian : anak-anak yang sholeh.
Maafkan ayah karena tak bisa selalu menungguimu belajar, karena ayah harus terus mencari peluang agar bisa sekedar bertahan hidup dan makan.
Tapi, Tak akan ada yang bisa menghapus rasa lelah serta menghentikan keringat ayah kecuali senyum ceria kalian.
Maafkan ayah, karena saat kalian melewatkan masa kecil dulu, ayah juga sering tak bisa bersama kalian.
Bekerja dan bekerja dari pagi hingga malam mengejar materi yang berbuah kesia-siaan.
Maafkan ayah, karena-mungkin- ayah tak bisa menyaksikan kalian tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang pintar, karena ada perjuangan dan prinsip yang akan ayah tegakkan.
Hidup tanpa prinsip, akan menjadi apa gerangan. Kadang, walau sulit, arus kehidupan harus kita lawan, karena kebanyakan kita tumbuh kuat karena perlawanan.
Maafkan ayah, tak bisa menyediakan harta yang berlimpah. Yang ayah punya hanya semangat yang tak kunjung padam. Ayahmu dulu orang susah, maka apa sulitnya menjadi orang susah kini?
Ayah tahu, kalian selalu menangkap apa yang telah ayah sampaikan tentang hidup dan kehidupan.
Tentang benar atau salah, tentang prinsip dan tujuan hidup. Hanya itu bekal yang bisa ayah bagikan.
Banyak kesalahan ayah yang tak patut kau tiru, karena ayah juga manusia. Ayah hanya berusaha menjadi manusia yang sebaik-baiknya.
Maafkan ayah dan selamat menggapai masa depan.
Wassalamu'alaikum
Dari,
Ayahmu yang berlumur salah.
Jumat, 07 Desember 2012
Surat untuk Kawan di Selatan
Saya -selalu- percaya tim yang "zonder hierarchy" akan lebih mudah mencapai kejayaannya, karena pribadi yang merdeka akan lebih kreatif dan berfikir terbuka; tanpa dihantui oleh sekat jenjang tingkatan, apalagi ketergantungan atas materi semata. Kalaupun ada jabatan, itu hanya "brevet" semata. Dia tak selalu berhubungan dengan kreatifitas dan kepintaran, dia hanya berhubungan dengan waktu serta posisi atas bawah, kiri dan kanan. Bahkan, jabatan bisa juga lebih dekat ke soal keberuntungan.
Bila gerakan ini nanti ada hasilnya, saya berharap hasilnya baik dan bermanfaat buat kita semua. Tapi bilapun tak ada, jangan itu menyurutkan langkah kita untuk terus mencari kebenaran dan kemerdekaan. Karena Jiwa yang Bermartabat, adalah Jiwa yang Merdeka.
Saya percaya kata Goenawan Mohamad, "Selalu bersiaplah menjadi manusia yang terus memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai"
Saya tak pernah memilih menjadi lawan- dari siapa saja, saya hanya terilhami kata Ayu Utami : "bukankah sebuah garis lurus selalu memiliki dua seberang? Dan kita pasti hanya bisa berada di sebuah seberang pada satu waktu. Kita harus memilih. Maka, ketika pilihan itu sudah dibuat, jangan benci seberangmu. Kita membutuhkan "lawan" untuk membuat sebuah garis lurus. Jadi, jangan benci lawanmu, jangan benci yang beda darimu".
Hanya saja saya tak pernah betah melihat "penindasan" itu berlangsung, bagaimanapun halusnya dia dikemas. Biarlah saya merugi seumur hidup, tapi keyakinan harus ditegakkan. Tak ada penilaian manusia yang perlu ditunggu, sepanjang Tuhan masih setia memantauku. Tuhan itu Ada.
Kita menunggu, karena kita telah mencoba sebisa kita, salah atau benar kita serahkan kepadaNya. Jadi kalau kata Handry satriago, "Ketakutan adalah mekanisme paling primitif untuk "survive", kita berharap bisa berada dalam golongan orang yang tegak berdiri menantangnya, dan bukan lari terbirit sambil kencing di celana."
Terima kasih atas doa dan dukungannya, salam untuk semua.
Kamis, 06 Desember 2012
Maka Cafe ini Seperti Hidup Kita (catatan 28 Oktober 2011)
Kamis, 21 Juni 2012
Selewat Kisah
Terus terang minat saya dalam dunia jurnalistik sangat besar. Boleh dibilang karir jurnalistik sudah saya rintis sejak dini, menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Dinding semasa SMA. Tapi sebagai pemred, pekerjaannya merangkap sebagai reporter, penulis, redaktur, illustrator dan ditemani pak Bon (panggilan untuk penjaga sekolah, dari kata Bapak (Tukang) Kebon) sebagai ASPEL (Asisten Tempel), setiap senin menempelkan majalah dinding edisi terbaru di mading sekolah. Waktu itu, kalau tulisan saya dibaca cewek-cewek, dan puisi-puisi yang saya bikin dikutip.... bangganya minta ampun. Serasa selebritis macam WS Rendra atau Goenawan Mohamad. Waktu itu jaman kondang LUPUS, maka idola saya adalah Hilman Hariwijaya (wartawan hai yang menulis cerbung LUPUS).
Masuk IPB tahun 1989, ketertarikan pada dunia jurnalistik tak pupus. Ditambah di IPB banyak yang lulusannya menjadi wartawan kondang, setiap sabtu (maklum anak daerah, nggak bisa sering-sering pulang ke kampung halaman...nggak kuat di ongkos) selalu saya lewatkan dengan ikut pelatihan jurnalistik, keliling dari satu fakultas ke fakultas lain. Puncak karir jurnalistik saya di IPB adalah menjadi PEMIMPIN REDAKSI majalah KATALIS, majalah Fakultas teknologi Pertanian IPB. kalau disini organisasinya sudah lumayan serius. Nggak ada lagi pak Bon yang jadi Aspel. Itu hingga tahun 1994 (sebenarnya saya lulus ujian akhir 1993, tapi karena wisuda baru ada Januari 1994 dan ada adik kelas yang saya taksir -kini jadi istri saya- hingga medio 1994 saya masih rajin ke kampus). Sambil banyak mengirim banyak lamaran pekerjaan -maklum anak kampung tanpa koneksi, dengan IP pas-pasan, saya tetap berusaha produktif menulis : paling tidak menulis puisi buat pacar. Hingga September 1994 saya diterima bekerja di REPUBLIKA ... sebuah kebetulan yang luar biasa, mengingat saya ikut arus teman-teman senagkatan mengirim lamaran ke ASTRA dan banyak bank yang lagi berjaya waktu itu. Jadi petani? saya pikir hanya 2% lulusan IPB yang bercita-cita jadi petani. maka saya termasuk di 98% nya ...
Tahun pertama di REPUBLIKA, bergaji Rp 350ribu/bulan adalah masa paling bersemangat dalam hidup saya. jabatan saya : SE alias Sales Executive Sirkulasi. Job Desc.-nya dari mulai begadang malam di percetakan, keliling ke agen, nongkrong di perempatan nungguin pengecer (maklum waktu itu REPUBLIKA belum genap setahun, pengecer masih malas bawa). maka saya selalu berseloroh, bahwa kulit saya yang tadinya putih -seperti Rafi Ahmad- menghitam karena terlalu banyak berjemur di perempatan jalan. Dulu saya pikir, saya dikerjain senior-senior saya melakukan "pekerjaan hina" untuk ukuran kelas alumni IPB. bahkan saya menghindari hadir ke reuni pada awal2 masa kerja saya, karena minder bertemu teman-teman yang wangi karena bekerja di bank.
Di Republika-lah, saya anak kampung, bisa hafal setiap sudut tikus jakarta. Di Republika-lah pertama kali dalam hidup saya bisa menyetir mobil sendiri, senior saya -Pak Surato, kini jadi pengusaha Real Estate di Sawangan - yang nyemplungin saya bawa mobil bak terbuka untuk pertama kali, dan alhasil hari pertama saat bisa bawa mobil sendiri, dua becak terserempet di daerah Curug Tangerang. Hari kedua, menabrak mobil pak Eri Sadewo-petinggi Dompet Dhuafa-sewaktu parkir mundur. Kisah selama bekerja di Republika sudah saya tulis sebagian di buku saya "TITIK (tidakbisa) BALIK". Di Republika juga saya bisa berkesempatan "bersalaman" dengan idola-idola saya sewaktu mahasiswa : Parni Hadi, Zaim Uchrowi, dan Farid Gaban.
Tapi perjalanan waktu menyadarkan saya, bahwa gemblengan senior-senior saya sangat berguna. Awal tahun 1997 saya dipercaya menjadi pimpinan tertinggi usaha di sebuah tabloid milik REPUBLIKA, tabloid ADIL. hanya perlu waktu tiga tahun untuk emncapai puncak etape satu dalam karir saya, Alhamdulillah. Saksi hidup perjalanan jungkir balik di tabloid ADIL (yang kelak menjadi tabloid Politik Terbesar, setelah DETIK) masih ada : mas basuki Wibowo yang sekarang menjadi SE kita di GOSPORT. 3px;">
Awal 1998 saya ditarik kembali ke Republika, menjadi Junior Sales, ini semacam promosi jabatan karena keberhasilan membawa ADIL sukses besar waktu itu. Tapi kemamapanan tidak nyaman buat saya. Pada tahun itu, saya bergabung ke majalah DR. Sebuah majalah krimimal yang disulap menjadi "majalah perjuangan" para alumni TEMPO yang tidak bisa mendapatkan SIUPP. "klandestin" menurut pendapat rezim waktu itu. Di sanalah saya bersentuhan dengan Pak Dahlan Iskan, Pak Margiono dan Para Direksi TEMPO yang kemudian menjadi LIFETIME TEACHER dalam hal pengelolaan media. Skuad Goenawan Mohamad yang artistik dan idealis sejati, Fikri Jufri yang flamboyan dan dikenal banyak kalangan, (alm) Yusril Djalinus konseptor ulung dan (alm) Zulkifli Lubis yang ketat menjaga gawang operasional (Keuangan, SDM dan Umum) adalah teladan yang hebat. Saya kira, puja-puji pak Dahlam pada Skuad ini bukan basa-basi.
Pada tahun itu juga, menjelang reformasi, bulan Juli ketika mulai banyak demo dan kerusuhan terjadi, DR membuat gebrakan dengan Cover bergambar Soeharto sebagai kartu KING. Rezim mengamuk, majalah ini terancam dibredel. Dan disinilah, saya mengalami pengalaman yang luar biasa : diinterograsi di Mabes Polri, menginap dua hari di sana dengan tuduhan super serius "Turut mengedarkan material untuk MAKAR". Kalau semua terbukti jalan saya sebagai TAHANAN POLITIK sudah terbuka lebar.
Tahun Tuhan tidak pernah Tidur. Reformasi terjadi, maka para calon pesakitan ini (saya, pak Margiono, pak Bambang Boedjono/Bambu, pak Edy RM) lepaslah sudah. Dan saat itulah memonetum majalah TEMPO terbit kembali.
Sebagai manajer Sirkulasi Majalah TEMPO, yang saat terbit perdana oplahnya 150ribu, saya bisa berkeliling Indonesia, dan saat itu pertama kali dalam hidup saya bisa menginjak Singapura. Anak kampung keluar negeri. Semua pelosok sudah saya jelajahi, berkenalan dengan semua agen (yang sebagian kini sudah bangkrut, bahkan meninggal). Tahun 2002 KORAN TEMPO lahir. Dia lahir dengan beban berat bayang-bayang majalah TEMPO, dan bahkan skuad hebat manajemen harus diperkuat lagi dengan hadirnya pak Leonardy Kusen, salah seorang orang kepercayaan pak Ci. Pak Leo-demikian saya memanggil- adalah peletak dasar manajemen modern di TEMPO, setelah pak Yusril Djalinus (alm). Bersama pak Leo, tidak ada lagi sistem manual, semua komputised. Hal pertama yang dibenahinya adalah CASH FLOW management. Saat itu, TEMPO satu-satunya koran yang cash flow managementnya dibantu sebuah software khusus. Tapi Koran TEMPO keberatan beban.
Tahun 2002, dengan jabatan Marcomm Manager (Marketing Communication) saya tinggalkan TEMPO. Anak kampung yang dulu tak punya mobil, sudah bisa mencicil Daihatsu Taruna saat itu. Dua anak saya adalah anak TEMPO, karena lahir dengan cesar dibiayai penuh oleh TEMPO. Maka, dalam perjalanan karir saya, TEMPO juga istimewa. Pada Tahun 2002 itu saya tinggalkan TEMPO, dan ini masa berkelana. Sepanjang 2002-2004 tak kurang majalah Business Week, TRUST saya jelajahi. Pada masa itu kembimbangan soal pilihan karir mulai merayap. Bisnis demi bisnis dijalan, dan semua-Alhamdulillah- gagal total.
Tahun 2003, saya kembali masuk koran, bersama TRIBUN JABAR (dulu namanya METRO Bandung). Disini saya banyak bertemu banyak teman, dan banyak belajar manajemen ala KOMPAS. Sebagai Wakil Pemimpin Perusahaan, saya cukup punya akses ke semua lini, dan banyak hal yang saya pelajari dari sebuah koran lokal bermodal super cekak tapi bisa survive dan kini sudah memiliki kantor dan percetakan sendiri.
Maka, kalau hari ini ada yang bilang bikin koran harus modalnya super besar, maka pendapat itu akan patah berkeping bila melihat bagaimana TRIBUN JABAR membangun dirinya. Semangat, militanisme SDM nya didukung Leader (Direksi) yang super serius dan bekerja sangat keras, memberikan tuturan bahwa uang akan datang selama kita mau bekerja keras. tapi TRIBUN tak lama buat saya. Mantan atasan di TRUST, memanggil saya kembali ke jakarta. Bimantara mau bikin koran, SINDO mau lahir.
Bersama beberapa teman, karena kami belum punya kantor waktu itu, kami sering rapat di sebuah warung nasi uduk, pojok tikungan Komplsk Ruko warung jambu-Bogor. Disitu dirumuskan strategi melahirkan sindo, terutama melawan domninasi Kompas yang sudah pasang kuda-kuda melarang agennya membawa sino. David vs Goliath. Tapi, saya merasa -barangkali itu geer- perang itu telah kami menangkan. Nyatanya sindo masih eksis sampai hari in, dan bisa jadi kini menjadi salah satu koran terbesar setelah Kompas dan Jawa Pos.
Masa-masa di Sindo juga kalah kalah getir. Tapi dengan jabatan GM Marketing waktu itu, fasilitas mobil mewah -paling tidak untuk ukuran saya waktu itu - sebuah Honda All New Civic Brand new, bahkan wangi kulit interornya masih kecium sampai sekarang; saya merasa mimpi saya sudah paripurna. Dan disana, paling tidak besar peran saya membuka biro-biro di semua propinsi di Jawa.
Tahun 2006 saya putuskan kemapanan itu, untuk mencari tantangan yang berbeda, jualan kopi. Hingga Agustus 2011, Facebook mengantarkan saya pada Asto Subroto, yang tadinya menjadi alumni panutan kami adik-adiknya di IPB (belakangan saya pikir, saya musti revisi pendapat soal alumni panutan itu). September 2012 masuklah saya membantu lahirnya sebuah koran olahraga : katakan mereknya OLAH. OLAH ketika saya masuk, saya lihat tak banyak obstacle atau kendalanya. Produk ini unik (olahraga, tak banyak saingannya). Bisa dijual. Tapi, belajar dari perjalanan saya, kita musti tahu bahwa :
1. Bisnis media adalah bisnis PADAT KARYA. Sehebat apapun peran teknologi IT, Peran manusia sedemikian dominannya. manusia yang memiliki emosi, perasaan, dan memiliki kebutuhan-kebutuahn dasar. Karena kebutuhan itulah, para manusia itu bekerja. Maka sangat mengherankan bagi saya, ketika pmimpin media tak memikirkan nasib anak buahnya, yang nota bene asset utama mereka. tanpa wartawan, atau tenaga pengepakan di percetakan, maka jalan koran tak sempurna.
2. koran adalah bisnis low profit, high profile. Siapa tak tahu Republika? Tapi apakah ketenaran Republika lantas linier dengan besar gaji para karyawannya? Tidak juga. Maka prinsip kesederhanaan, efisiesn, speed tinggi (ingat : waktu adalah uang) menjadi sangat krusial di koran. menunda satu hal 1 jam, akan berakibat fatal. Nggak percaya? Muat berita tabrakan hari ini di koran lusa, InsyaAllah koran bakal jadi retur.
3. Sering salah ditafsirkan, bahwa oplah besar adalah sumber bencana. Maka, jangan heran, bila koran2 yang kolaps, gejala pertamanya adalah mengurangi oplahnya. Padahal, oplah makin besar; biaya per unit sirkulasi dan distribusinya makin kecil, ARTINYA kemungkinan mencipta margin makin besar. PERSOALAN besarnya adalah : bagaimana membuat koran itu LAKU. Disitu letak tantangannya. Ketika oplah dipangkas, maka perusahaan makin tak efisien (kan overhead spt gaji, operasional tdk berkurang?), tingkat display rendah (iklan malas masuk, koran banyak tak teredar).... maka kolaps lah sudah.
Maka : bila ada persoalan besar yang harus diselesaikan adalah bagaimana asset manusia nya sejahtera, lalu oplahnya terjaga, penjualannya tumbuh, dan uangnya dikelola dengan sedemikian cermatnya. Baru selebihnya.
Dan itu, berdasar cerita pengalaman saya yang berlumpur dosa, akan jadi awal kesuksesan kita. dalam sejarah karir saya, OLAH memiliki kantor dengan fasiltas yang paling hebat, maka pantasnya gosport juga bisa lebih hebat dari tempat saya bekerja dulu. Berkarir di media adalah sebuah jalan hidup, bukan halte di sebuah persimpangan hidup. Butuh dedikasi, integritas dan komitmen.
Ini saatnya, kita maju atau tenggelam sama sekali. Kalau Koran lain bisa maju, tentu kita juga bisa . salam semangat tukang koran !
Rabu, 18 April 2012
Kisah paling Nyata, Ada di Dekat Anda ...

Tadi pagi, seperti biasa, sambil menyeduh kopi saya sempatkan membaca beberapa kabar dari teman di situs jejaring sosial. Sebuah kisah tentang seorang tua penjual amplop di depan msjid Salman ITB menyeruak. Di zaman amplop menjadi komoditi yang terpinggirkan, beliau tetap setia menjualnya. Di zaman yang yang makin serakah dan tak punya hati nurani, beliau hanya setia pada keuntungan Rp 25,- per lembar amplop yang dijualnya. yang bahkan, bila amplopnya laku 100 lembar, keuntungannya tak cukup untuk membeli sebungkus nasi dari warteg.
Tapi kisah itu jauh, saya tak mengenal si Pak Tua, saya jarang lewat Masjid Salman, karena saya tinggal di Bogor. Dan, di dekat saya ada kisah serupa, saya temukan di kantor tempat saya "bantu-bantu" bikin kopi dan teh.
Ada pak Saman-sebut saja begitu. sudah 18 tahun bekerja di kantor ini. Sejak kantor ini belum ada kursi katanya. Tugasnya dulu membagi-bagikan koran promosi, hingga kini setelah 18 tahun posisinya tetap -kurang lebih- sama. Di antara pasang surut kantor ini, ketika tiba saat tak bergaji, dia berkeliling sepanjang kebayoran lama : menjajakan bubur ayam. Sang istri, tak jauh beda : hingga kini tekun menjual gorengan dan makanan kecil di sebuah SMP di kebayoran lama. Perjuangan yang luar biasa. Pak Saman tak mengeluh, dan bercerita bangga tentang anak-anaknya yang telah "mentas" dan bekerja semua. Sang anak pertama, kebanggan keluarga, kini sudah enam tahun ada di Papua, bekerja dan beranak pinak di sana. Cita-cita pak Saman dan sang istri : ingin segera bertemu sang anak dan menantu di Papua.
Lalu ada mas Basuki. Saya sebenarnya mengenalnya sudah lama, dari tahun 1995 kami sudah pernah bekerja bersama-sama. Penguasaannya di lapangan, membuatnya koran yang saya bantu ini masuk dengan mulus di lapangan. Tapi, mas Basuki masih belum bisa menikmati hasilnya. Setiap hari, dia bergantian dengan istrinya "mengojek". pagi dan Sore hari, saat anak-anak tetangga memerlukan ojek untuk berangkat dan pulang sekolah, sang istrilah yang bekerja. Sang istri membawa motor, mengantar jemput anak-anak tersebut. Tunggu dulu, sebelum itu, sejak lepas subuh, mereka berdua bahu-membahu membuat susu kedelai yang dijual pada tetangga dan kantin skolah anak mereka. Malam hari, selepas kerja di kantor, mas Basuki yang turun "beroperasi". Di daerah bekasi timur dia mangkal di pangkalan ojek, kadang hingga dini hari menunggu penumpang. Jangan bayangkan sabtu dan minggu mereka bisa piknik atau berbelanja. Itu semua mereka lakukan demi dua nak mereka yang mulai beranjak remaja. Tahun ini, si sulung akan masuk sebuah sekolah dengan sistem ikatan dinas di kota Bogor. Cita-cita harus setinggi langit.
pak Saman dan mas basuki adalah para pejuang sejati. Di saat tekanan hidup semakin keras, mereka tak memilih menyerah, mereka "melawan" dengan kerja ekstra keras dan usaha yang pantang berhenti. Mereka tak mau korupsi, atau manipulasi. Cita-cita mereka besar untuk anak-anak mereka.
Maka, sebagaimana pak Tua penjual amplop di depan masjid Salman ITB, patutlah saya salut pada mereka, perjuangan mereka mengisnpirasi saya.
Kamis, 12 April 2012
Memilih jalan yang sulit

Manusia tempatnya kekeliruan, tapi belajar untuk memperkacil kekeliruan juga sebuah keharusan. Kadang, sudah disediakan rezeki jalan yang mudah, tapi kita menutup mata : dan memilih jalan yang sulit.
Saya buka cerita saya.
Sudah kurang lebih enam bulan ini, disamping mengelola kedai kopi (www.misterblek.co.cc) , saya membantu penerbitan sebuah Harian /Koran. Ya-terus terang- itu hobby saya : bikin koran (nggak pake modal). Biasanya kalau koran itu sudah jalan, sudah mulai banyak terjadi "perebutan pengaruh dan kekuasaan" itu tandanya saya harus hengkang. Mengambil pilihan hidup lain yang lebih indah.
Sebagaimana ketika membangun Republika, majalah dan koran Tempo, koran Sindo : tahapannya mulai dilakukan. Karena dunia koran adalah dunia penuh labirin, atau kata para generasi Alay, penuh jebakan betmen : ada kala manajemen kejeblos-kejeblos sedikit. Nggak apa, ini kan yang bikin seru?
Tapi, untunglah, pengalaman sebagai kutu loncat pindah sana-nemplok sini, membuat rasa kaget-kagetan atau gampang heran-heranan sudah ogah nempel lagi. Di awalnya semua dibangun dengan mulus, malah dalam waktu 4 bulan koran ini sudah mencapai jumlah peredaran yang lumayan mencengangkan, sales juga nggak jelek-jelek amat untuk ukuran koran yang "tidak diapa-apain"; tidak ada program penjualan, tidak ada promosi tidak ada hingar-bingar. Kata senior saya di Tempo, mas Wahyu Muryadi : Ngglundhung Semprong.
Masalah yang dihadapi di lapangan sangat generik, standar dan memang tidak ada hal baru (barangkali itu juga yang bikin saya cepet bosan bertahan di satu koran, dan pengennya pindah ke koran lain : selain karena iming2 gaji lebih gede). Dan hal lain yang generik, adalah pusingnya manajemen menghadapi harga cetak yang boncos tiap hari bayar, dan tingkat retur yang belum bisa mengimbangi penjualan. Tapi, namanya juga koran baru, harusnya memang ini jalan yang musti dilalui. Kata suhu saya : No Shortcut, Just Acceleration.
Dan dalam situasi seperti ini, entah kenapa, selalu ada saja muncul pendekar kesiangan. Merasa dengan "analisa di belakang meja" semua masalah bisa mereka selesaikan; padahal pengetahuan masih cekak. Dengan jurus "jilat-jilat sedikit" maka dimulailah manuver dari mulai "sidak" sampai laporan"asbun".
Biasanya, dari apa yang sudah terjadi sudah-sudah, ini justru awal kehancurannya. Karena pengetahuan yang kurang, analisa yang dangkal, keputusan yang diambil keliru. Mau untung malah buntung. Kena jebakan betmen, kata anak alay.
Yang saya heran, apa sulitnya saling percaya. Kalau saling percaya, jalan yang terbentang akan mudah. Mosok sih saya segitu "gendheng"-nya mau njeblosin tempat saya dimintain bantuan. Secara akal sehat, dengan segala jungkir balik di masa lalu, nggak mungkinlah saya mau gegabah bikin strategi. Keledai aja nggak mau kejeblos dua kali di lobang yang sama. Karena ini soal reputasi, saya musti mikir : eh, siapa tahu kalau koran ini sukses, saya bisa ngegarap koran lain supaya sukses juga. Jualan saya kan reputasi.
Jadi, mereka memilih jalan yang sulit. "Sidak" nggak pakai strategi, "Turba" tapi nggak jelas apa yang dicari. Alhasil yang didapat hanya kulit ari masalah, dan pasti...pasti... keputusan yang diambil juga akan salah. Sulit bener.
Tapi, biarlah, itu kan soal pilihan. Kalau kita mengelola koran, kalau koran kita sudah dibawa pengecer dan tak ada yang "didudukin" atau "ditimbun" agen, maka pekerjaan kita tinggal ringan, geber sales-nya : perbaikan produk, jangan datang telat dan sediain bujet buat bikin program penjualan. Bukan ngurusin monopoli oplahnya, karena bukan itu akar persoalannya.
Justru lupa, bahwa hajat hidup koran itu di iklan, itu yang musti dipelototi dan digenjot. Rame-rame jualan. Tapi, karena cari iklan sulit, maka dia menjadi tak sexy. Resikonya terlalu besar untuk jadi bedak dan pupur cari muka.
Sekali lagi, itu soal pilihan. Sambil siul-siul saya balik lagi nyeruput kopi : Nggak Ngopi, Nggak Trendy.
Jumat, 09 Maret 2012
Siti si Penjual Bakso

Sambil menyeruput kopi di sore-sore yang hujan ini, anda masih merasa beban hidup anda saat ini berat sekali. Pusing memikirkan hutang atau dompet yang tipis terus tak kunjung tebal, maka ada baiknya anda baca kisah nyata ini. Kisah Siti, gadis kecil penjual bakso. Saya temukan kisah ini di TV dan tebaran beritanya di internet, sebuah kisah nyata yang menyentuh.
-----------------------------
Namanya Siti, usianya baru beranjak 7 tahun. Dia bukan anak metropolis yang beruntung, tinggal di sebuah desa di banten, bersama ibunya-karena sang Ayah telah tiada.
Sepulang sekolah, tak seperti anak sebayanya yang bisa bermain dan bergembira, dia bergegas pergi ke tetangganya yang punya usaha menjual bakso. Dia ikut menjual bakso. Tentu karena tangan kecilnya tak kuat mendorong gerobak bakso, dia menjual bakso dengan caranya sendiri. Kuah bakso dia masukkan dalam termos nasi, bakso dan mangkok dia tenteng di tangan satu lagi dalam sebuah ember bertutupkan serbet lusuh. Berat? tentu, apalagi untuk ukuran tangan kecila anak usia 7 tahun. Dijalaninya siang yang panas selepas sekolah menawarkan bakso, terseok-seok. Bila bakso laku semua, maka dia akan mendapatkan 2 lembar uang seribuan dari sang "juragan", tapi bila tak laku hanya selembar ribuan yang dia terima.
Sore itu, sesampai rumah -atau lebih tepatnya gubuk- seperti biasa, tak dijumpainya emak yang belum pulang dari menjadi buruh tani di kampung sebelah. Sambil menahan lapar, sesuai nasihat ibunya, dihampiri tetangga untuk minta ijin mengambil kangkung yang tumbuh liar di empang. Setelah mendapat ijin, Siti kecil terjun ke empang dan mengambil barang dua tiga potong kangkung yang akan dimasak emaknya untuk lauk malam ini : bersama nasi yang tak sampai separuh piring untuk berdua.
" ya Allah, berilah kesehatan pada Siti, supaya Siti bisa sekolah dan membantu emak. Berilah kesehatan pada Emak, karena hanya Emak teman Siti satu-satunya". Itu doa Siti kecil tiap hari.
Lalu, patutlah kita bertanya pada diri kita sendiri hari ini. Apakah beban kita seberat yang dipikul Siti dan Emaknya. Betapa kita sangat beruntung bisa membuat anak-anak kita tetap bersekolah, memakai baju seragam dan bermain tertawa selepas dari sekolah. tak cukupkah kita harus bersyukur, walau naik metromini ke kantor kita masih bisa membayar ongkos, bertemu teman yang kadang masih sudi mentraktir kita.
Syukur letaknya bukan di dompet, dia ada di hati kita.
Selasa, 06 Maret 2012
Selamat Ulang Tahun TEMPO

Melemparkan ingatan awal tahun 1999, ketika TEMPO terbit kembali. Buat saya, kenangan khusus ketika TEMPO terbit kembali : musibah sekaligus berkah.
Di pertengahan 1998, saat politik sedang bergolak panas, saya menerima tawaran untuk bergabung di majalah D&R. Majalah yang dikelola para "klandestin", pejuang bawah tanah eks majalah TEMPO yang dibredel tahun 1994. Ini adalah media perlawanan, berkali-kali kantor disatronin intel untuk mengintip isi majalah yang akan terbit. Tapi majalah ini hidup segan, mati tak mau. Pembacanya hanya aktivis, yang mayoritas terkenal cekak dompetnya. Saking susahnya, hingga pak Dahlan Iskan mengulurkan bantuan, lewat tangan kanannya : pak Margiono. Singkatnya, tiba suatu masa, majalah ini membuat heboh dengan edisi Cover Gambar Kartu King kepala Soeharto. Lumayan : saya, pak Margiono, mas Bambang Budjono, mas Edi RM diciduk mabes Polri dengan tuduhan super serius : MAKAR.
Tapi angin politik cepat berubah, reformasi menggulung tiran. Cukuplah semalam menginap di Mabes Polri. Hingga terbit kembalilah TEMPO.
Pada saat edisi perdana terbit kembali, TEMPO sudah sangat dinanti. Agen ngantri di percetakan menunggu majalah, sebagian besar sudah bayar di muka. Iklanpun tak kalah ngantri. Perjuangan membesarkan majalah TEMPO edisi terbit kembali tak sulit, karena nama besarnya. Di TEMPO, berseliweran nama-nama besar dunia jurnalistik Indonesia, para tokoh. Hingga tahun 2001 terbitlah Koran Tempo.
Nama besar majalahnya tak banyak menolong koran ini. Perjuangannya tak kalah sulit, apalagi Kompas, salah satu kompetitor menabuh genderang perang. Melarang agen-agennya mengedarkan koran tempo. Pasukan Sirkulasi dengan gigih menembus pasar, bergerilya hingga ke sudut gang untuk mencari agen yang mau mengedarkan. Oplah 140.000 per hari adalah prestasi saat itu.
Maka, di medan perang koran tempo lah kami belajar banyak bahwa mengelola koran itu sulit. tak hanya saya dan pasukan di sirkulasi, bahkan jajaran top manajemen juga memutar otak bagaimana agar koran ini tetap eksis dan selamat. tak jarang, kami kejeblos dalam banyak "jebakan betmen" kebijakan penjualan. Prediksi tak selalu cocok dengan kondisi di lapangan. Banyak kambing hitam, tapi koran itu masih tetap mencoba bertahan.
Hari ini, TEMPO merayakan ulang tahunnya ke 41. Sebuah perjalanan yang super panjang untuk sebuah majalah. Di foto syukuran yang dikirimkan teman-teman, saya melihat wajah-wajah lama teman-teman saya, tentu dengan uban yang makin lebat dan badan yang makin "berisi". Adakah TEMPO makin tua, mungkin tidak. Dia makin dewasa. teman-teman saya sudah merasakan getirnya diombang-ambingkan oplah, berjibaku dengan pendapatan dan berkejaran dengan tagihan.
Tapi TEMPO tetap fokus. banyak cita-cita mereka yang ingin diwujudkan, dengan tenaga yang makin menua. Mereka ingin media ini bertahan, di persaingan industri yang makin kejam. Kekuatan itu yang mustinya kita punya : kekuatan untuk FOKUS dan KONSISTEN.
Selamat Ulang tahun TEMPO, dari jalan Proklamasi, Gedung Jaya hingga Palmerah saya banyak belajar.
Kamis, 14 April 2011
The Pursuit of Happyness

Bukan bermaksud sok Inggris, tapi hanya mengutip. Judul diatas adalah judul sebuah film, yang berulang saya tonton ketika malam sudah mulai dingin, embun mulai jatuh dan jengkerik mulai berdendang.
Sebuah film biasa, tapi dengan cerita luar biasa, karena diilhami kisah nyata seorang Chris Gardner, seorang sales biasa namun berbakat, dengan anak semata wayangnya Christopher yang berjuang berdua : menemukan kebahagiaan.Kisah ini sebenarnya jamak terjadi di lingkungan kita. Barangkali saya atau anda adalah Chris Gardner.
Seorang salesman miskin, dengan anak semata wayang tak berdosa di dunia kesendirian tanpa dukungan : berjuang mengejar mimpi. Maka kembali pada Chris Gardner. Dia seorang salesman miskin, dengan balita yang belum lagi tahu apa-apa. Keyakinan pada mimpi besar yang dimiliki, membawa dia berjuang menjual alat yang sia-sia saja dijualnya. Bisnis kadang kelihatan manis di kulitnya. Hingga ketidakberdayaan ekonomi membuatnya terbuang dari apartemen-bersama anaknya- terlempar dan terusir dari satu penginapan ke penginapan lain, tertidur di WC stasiun kereta dan mengejar bis kota hanya agar tak ketinggalan antre di rumah singgah. Christopher-sering tak mengerti dan menangis : mengapa ayahnya mengajaknya hidup susah dan berpindah-pindah.Tapi, nasib baik hanya berpihak pada yang mau bermimpi besar dan berjuang-mengambil langkah nyata- untuk mengejarnya.
Terinspirasi seorang broker saham bermobil mewah, dia mencoba peruntungannya di sebuah perusahaan sekuritas. Bekerja tak digaji dan hanya mendapatkan ilmu baru saja. Dan Tuhan selalu Maha Adil. Kini Chris Gardner adalah multi miliuner dan filantropis di Amerika sana.alu, mengapa film ini sebegitu mempesona? apa hebatnya film yang dibuat di Amerika, di negeri yang terkenal dengan pengagungannya pada materi?Coba lihat diri kita. Anak kita menangis ketika kita akan berangkat bekerja, setiap subuh.
Mereka ingin sekedar bercanda dan ngobrol dengan kita, karena semalam -seperti malam-malam yang lain- kita datang saat mereka sudah tidur. Suami atau istri kita bersedih karena pekerjaan mengharuskan kita pulang terlambat atau tak pulang sama sekali : demi penghasilan yang sama, seperti yang diterima bulan lalu atau bahkan tahun lalu. Dan kita merasa harus bangga bertepuk dada di depan semua anggota keluarga kita karena penghasilan, yang selalu kurang itu: bukan karena jumlahnya, tapi bila dibandingkan dengan waktu untuk keluarga yang telah terbuang sia-sia.Maka lihatlah Chris Gardner.Dia mengambil sebuah titik mula dari lembah yang paling dalam. Tanpa bantalan "keamanan finansial" hanya bertopang pada mimpi besar. Maka apabila itu disebut penderitaan, itulah dasar dari semua derita. Bayangkan bagaimana dia begitu gigih meyakinkan Christopher -seorang balita yang belum genap bernalar- untuk ikut "melindungi mimpinya".
"Don't ever let somebody tell you : you can't do something...You got a dream, you gotta protect it. If you want something, go get it. Period".
Maka bandingkan dengan diri kita. Kita makhluk yang ber-Tuhan. Mustinya tak cuma bertopang pada mimpi kita berani melakukan "sesuatu yang berbeda". Mustinya kita juga bertopang pada Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Adil. Mustinya tak ada lagi kebimbangan, karena keyakinan penuh kita juga akan meyakinkan seluruh anggota keluarga kita. Sebagaimana Christopher meyakini mimpi ayahnya.Maka tak ada lagi rasa jenuh atau tersia-sia.
Sehingga belajar dari Chris Gardner : timbang lagi mimpi anda, lakukan sesuatu yang berbeda...pasti hasil yang akan kita capai juga berbeda. Ingin memiliki gaji lebih besar, carilah karir di tempat yang bisa memberikan gaji lebih baik (artinya bekerja dengan sedikit waktu, dengan gaji yang lebih banyak); atau ingin memiliki bisnis sendiri?
Mulailah jangan banyak berfikir, mempertimbangkan dan menunda.imbanglah banyak waktu untuk keluarga, karena kesanalah kita akan pulang. Uang bukan segala-gala.Tuhan selalu bersama kita. Setidaknya itu yang diajarkan Chris Gardner pada kita. Semoga menginspirasi.
Untuk istri dan anak-anakku
Selasa, 21 Desember 2010
Jalan Bogor-Ragunan
(Terilhami dari Jalan Bogor-Jasinga : Kumpulan Sajak Sepatu Tua, Rendra)
Anakku, hari ini kalian telah belajar banyak wacana
Perjalanan dengan tujuan adalah sebuah keindahan
karena tujuan membuat kita mudah memilih jalan
maka, tentukan tujuan hidupmu agar kalian mudah memilih jalan
Anakku, dari jalan antara Bogor sampai Ragunan
Kalian juga belajar bahwa keyakinan kuat akan menghapus ketakutan
bayang-bayang sering lebih seram dari kenyataan
maka, buatlah sebuah keyakinan bila sudah memilih jalan
Anakku, di atas sadel motor hitam bapakmu
Kalian mencerna bahwa hidup bukan untuk terlalu banyak bicara
atau terlalu banyak mendengar tapi tak berbuat apa-apa
maka, lakukanlah apa yang telah kau yakini dan rancang jalannya : jangan menunda
Berdebatlah dengan orang pintar, sehingga engkau jadi pintar
Bergaulah dengan orang kuat, maka engkau akan jadi kuat
Bertemulah dengan banyak juara, kelak engkaupun akan jadi juara
Jarak kota kita hingga Ragunan
barangkali tak sampai satu persen panjang hidup kita
tapi semoga pelajaran penting hari ini
di antara macet pasar Pondok Labu dan nikmat rehat siang di masjid pinggir jalan
menjadi pelajaran yang sempurna, bahwa hidup harusnya tak cuma mengalir saja
Tentukan tujuanmu, dan aku -bapakmu- akan membantu menyempurnakannya
----------------------------------------------
Untuk Alifa dan Diva,
Dari Perjalanan Bogor - Ragunan hari ini (201210)
Senin, 20 Desember 2010
Seorang tukang soto dengan istri dan anaknya

Tadi pagi, matahari belum terik sinarnya
di pinggir jalan yang berdebu
dengan truk tanah ramai melintas
Anak kecil itu nampak belum punya dosa
rona mukanya bercahaya, dibalut selendang kumal ibunya
ayahnya tukang soto sederhana
di sebuah pojok dekat bintaro sana
Hidup ini terasa indah buat mereka
bapak anak dengan gerobak sotonya
mengangsurkan selembar limaribu perak
untuk menyicil hutang pada petugas bank pasar
dengan senyum kemenangan
Nak, hari ini bapakmu berhasil menaklukan dunia !
Aku kecut malu dihadapan mereka
betapa tak bersyukurnya aku yang masih menyimpan selembar limapuluh ribu
dalam lindungan terpal lusuh yang menaungi gerobak soto reyot
di depan pom bensin yang berdebu
mereka bersendagurau dan tertawa
bapak dan anak dengan gerobak sotonya
Mobil bagus dengan ac yang dingin
pekerjaan hebat dengan jabatan tinggi
tak bisa menciptakan tawa seperti mereka
senda gurau lepas karena telah menaklukan dunia
dengan lembar-lembar seribu dan recehan sekedarnya
maka inilah dunia
bila uang yang kau kejar, maka kau hanya mendapat uangnya
tak ada canda ceria dengan anak yang rona mukanya bercahaya
dengan baju kumal yang entah berepa hari tak ketemu gantinya
tapi tak demikian bila bahagia yang kau kejar
tukang soto dengan gerobak sederhana itu buktinya
mustinya aku bisa banyak belajar dari dirinya
Selasa, 07 Desember 2010
Soliloqui untuk Alifa dan Diva
Nak, hari ini aku minta maaf
hanya bisa mengajakmu sarapan pagi
di kedai bubur pinggir kali
yang pembeli lain makan sambil mengangkat kaki ke atas kursi
Nak, perjalanan hari ini penuh angin
dan tentu debu yang berterbangan kesana kemari
motor bapakmu ini jadi saksi
betapa besar keinginanku membuatmu tersenyum sesekali
Tak ada baju bagus dan sepatu mahal buatmu hari ini, Nak
hanya deretan buku-buku petualangan di atas rak
dan centang perenang ilmu pengetahuan
yang barangkali bisa jadi bekalmu
Nak, tak ada emas rajabrana di lemari
atau parfum wangi di atas meja
hanya ini yang bapakmu punya
mimpi besar dan setinggi luar angkasa
Nak, bapakmu tak punya mimpi tersembunyi
mimpi bapakmu buat kamu : anak-anakku
bahwa suatu saat mimpi besar itu bisa membawa kalian
menjelalah dunia, menaklukan alam dan mencatatnya
----------------------------------------------------------------------------
Bogor, 6 Desember 2010
Antara Katulampa-Ciawi bersama Divaprillia
Untuk mereka : Alifa dan Diva
Rabu, 03 November 2010
Soliloqui dari Bogor yang makin tua

Ini adalah malam ketika bulan masih muda
Jalan Pajajaran sudah sunyi
angin enggan berdesis-desis menyanyi
para waria sibuk memoles dan mematut diri
dalam balutan pakaian seksi
mereka mulai beraksi, dan malam makin tua
Bayangan gedung paska sarjana gelap tanpa cahaya
terkantuk dalam kotak, satpam yang berjaga
barangkali dia bermimpi tertawa bahagia tidur dalam dekapan istri dan anaknya
pepohonan tua di takol juga sudah kehilangan bayangannya
kalah wibawa dan takluk pada gedung megah gemerlap di sebelahnya
dua puluh tahun lalu
kami, para mahasiswa miskin, menghabiskan waktu di sana
berpura-pura belajar, agar lupa rasa lapar yang mendera
dalam hijau rumput di lapangan depan ruang kimia
kami berdiskusi dan berdebat seolah akan menguasai dunia
Ini adalah malam air sungai ciliwung berwarna coklat tua
alirannya yang membelah jalan riau dan kebun raya saat hujan tiba
mengingatkan banyaknya kemarahan yang sia-sia
kemarahan karena dan kebingungan dan kesulitan yang mendera
padahal kata Rumi : sabarlah, karena sabar adalah kunci kebahagiaan
Salutku pada tukang bubur kacang di ujung gang Babakan
tidak mau menitipkan mimpinya pada siapa-siapa
dalam malam yang penuh kantuk,
dia setia menunggu jerangan air dan adonan ketan hitam
seperti perjalanan rumit merajut cita-cita
Kamis, 21 Oktober 2010
Kang Entang, Pelantun Nasyid yang Tuna Netra

Ini kali kedua saya melihatnya berdiri dengan "pede" di depan jamaah pengajian minggu di Andalusia Islamic Centre-Sentul City. Bukan untuk khotbah atau berceramah.
Dia bukan tokoh dalam fiksi atau rekayasa, dia ada di dunia nyata.
Perawakannya kurus bersahaja, kulit agak gelap menyembunyikan segala kemungkinan bahwa dia berasal dari ibukota Priangan yang dingin. Dituntun seorang jamaah, dia menuju ke depan mimbar untuk melantunkan nasyid-nasyid yang menyejukkan hati. Senyumnya ditebar ke kanan dan ke kiri, dengan penuh percaya diri : karena dia tak melihat puluhan mata yang menatapnya. Ya, dia - kang Entang, namanya - adalah seorang tuna netra.
Saya kira tadinya dia tuna netra yang biasa-biasa saja, tapi saat Ustadz Syafii Antonio mengenalkannya pada kami semua, barulah saya ternganga.
Kang Entang, dengan sedikit bercanda berkata, bahwa kebutaan adalah kelebihannya dibanding orang kebanyakan umumnya. Bayangkan, katanya, saat listrik sedang padam; maka orang lain akan tergagap sibuk mencari lampu untuk meneranginya saat membaca. Tapi tidak bagi kang Entang, lampu mati atau menyala, sama saja gelapnya : jadi dia tak perlu tergagap mencari penerangan seperti lilin atau sejenisnya.
Dengan "kelebihannya" kang Entang bisa menyelesaikan menghafal Al Quran dan terus mengaji. Quran yang dibacanya pun cukup istimewa, karena berhuruf Braille. Jangan bayangkan Quran ini sebagaimana Quran yang umum kita lihat dan kita baca, Quran berhuruf braille jauh lebih mahal karena lebih tebal, serta berat dan tak mudah dibacanya.
Alasan Kang Entang menghafal isi Quran cukup sederhana, karena tonjolan titik-titik dalam huruf braille punya masa kedaluarsa, makin sering di-"jamah" maka makin menipis tonjolannya : maka agar dia tak sering-sering meraba Quran-nya, dia memilih menghapalnya. Dan dengan hapalnya dia, maka Qurannya bisa dipakai tunanetra lain yang lebih membutuhkan. Sebuah pemikiran yang mulia.
Tak berhenti sampai di sana. Kang Entang menghimpun teman-teman yang senasib dengannya, membentuk sebuah Yayasan. Yayasan ini bergerak di berbagai lini, dan salah satu lini unggulannya adalah : memproduksi rekaman Nasyid yang dinyanyikan kang Entang beserta beberapa rekannya.
Niatnya sungguh mulia, bersama teman-teman se Yayasannya : dia menjalankan syiar, berkarya dan membeli Al Quran braille (yang mahal sekali haragnya) untuk didistribusikan pada tunanetra lain yang membutuhkan ; di berbagai belahan Indonesia.
Kang Entang baru beberapa hari pulang dari Mekkah menunaikan ibadah umrah. Bukan kemenangan besar melihat Baitullah yang telah dimenangkannya, tapi kemenangan besar membawa serta ibunya ke Mekkah, mengunjungi semua lokasi penting dan bersejarah serta kemenangannya "memegang Kabah".
Di akhir cerita, Kang Entang berkata (dan ini sangat menusuk saya) : Bahwa jangan jadikan "kekurangan" penghalang pencapaian mimpi kita, jadikan sahabat dan "alat kemenangan kita". Jangan jadikan dia sumber keluh kesah yang makin menjatuhkan kita dari lembah keterpurukannya.
Maka, belajar dari kang Entang, buat anda yang sedang dirundung banyak hutang, karir yang macet atau usaha yang sedang dalam kondisi kesulitan : jadikan momentum ini untuk "alat ungkit" menuju kemenangan; barangkali selama ini kita "kurang beguna" bagi orang-orang di sekeliling kita. Raih mimpi besar kita, dengan menjadikan "lingkaran besar" orang-orang bahagia di sekeliling kita. Tuhan tahu kapan saatnya.
Maka, di dinihari yang dingin berangin ini, sambil mengingat kang Entang, selamat menjadi orang yang berguna. Bismilah.
Namanya Bob si Penemu

Ya, namanya Robert Kearns, di lingkungannya dia biasa dipanggil Bob. Kisahnya diangkat dari dunia nyata, dalam sebuah kolom di NEW YORKER, ditulis oleh John Seabrook. Tahun 2008 di angkat ke Layar Lebar -dengan titel yang sama dengan judul artikel itu : Flash of Genius - disutradai oleh Marc Abraham.
Hingga suatu kejadian pada tahun 1953, Bob yang ahli fisika dan elektronika, hampir saja buta karena tutup sampanye yang dibukanya melompat dan hampir mengenai mata kanannya. Dan Bob bersyukur, Tuhan menciptakan "mekanisme" mata : bisa berkedip. Hingga suatu ketika, ketika dia berkendara dengan Ford Galaxy-nya saat hujan turun ringan, dia berfikir : alangkah enaknya bila wiper (karet pengahpus kaca) bisa berkedip sesuai keinginan kita (intermitent), seperti kedip mata kita.
Dari sinilah semua kisah berawal. Dengan kepandaiannya, diciptakanlah sebuah sirkuit yang memungkinkan wiper bisa berkedip secara intermitent, tidak konstan seperti umumnya wiper pada jaman itu. Dibantu rekannya, Gil Previck-pemilik Previck Motor Industries, dipatenkannya penemuan itu : dan ditawarkannya ke mogul otomotif pada jaman itu : FORD Motor Co.
Ford, lewat eksekutifnya, Macklyn Tyler menyetujui kerjasama tawaran itu, meminta Bob mengirim sampel dan perkiraan biaya dan harga. Setelah berjabat tangan, lalu tak ada kabar hingga tiga bulan kemudian, saat Bob secara tak sengaja menemukan bahwa penemuannya dipasang dan dijadikan nilai jual untuk Ford Mustang yang baru dirilis saat itu.
Bob berang dan meradang. Ford ingkar janji.
Tapi kisah penemu dan dibohongi industri bukan kisah sekali ini saja. Bob belajar dan mencerna. Dia tetap meradang, dan setelah sekian lama perjuangan : pengacara yang ditunjukknya bernegosiasi, memberikan kabar Ford menawarkan "damai" dengan membayar 250ribu US Dollar, tapi tak mau meminta maaf atau mengakui bahwa "intermittent wiper" adalah penemuan Bob.
Bob makin meradang, dan pengacaranya patah arang : hingga mengundurkan diri.
Bertahun-tahun, setelah sempat berobat ke sebuah Rumah Sakit Jiwa di Maryland,menggantungkan hidup dari Jaminan Sosial Negara, berada dalam cibiran banyak orang, ditinggalkan istri yang selalu mendampingi : Bob tetap berjuang. "Ini bukan sekedar masalah uang", demikian katanya.
Hingga bertahun-tahun tanpa kepastian, Bob tetap berjuang melanjutkan persoalan ini ke Pengadilan. Pihak Ford, dalam proses di luar pengadilan, menawarkan hingga 30 juta US Dollar : asal Bob mau tutup mulut dan tak melanjutkan kasusnya. Tapi, Bob, yang didukung anak-anaknya tetap maju, dan tak mau menerima tawaran itu. Ini bukan masalah uang.
Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan menyakitkan, Bob yang tak didampingi pengacara, melawan raksasa otomotif FORD dengan segala kekuatannya : Bob memenangkannya. FORD harus membayar 10 juta dollar, dan belakangan Chrysler Motor Co juga membayar 18,7 juta dollar : atas pemakaian paten milik Bob secara illegal.
Bob memenangkan peperangan dengan idealisme dan konsistensinya.
Berkacalah dari Bob. Berapa gelintir dari kita yang hidup dipenuhi dengan idealisme dan konsistensi ? Iming-iming uang dan jabatan seringkali jadi peluntur utama. Perjuangan kita tak pernah sungguh-sungguh akan bermakna kemenangannya karena tak ada idealisme dan konsistensi.
Banyak dari kita pergi bekerja hanya karena kita takut pada aturan kantor, atau bahkan takut pada bos yang sering duduk di seberang meja kita. Kita takut ketika diancam tak naik jabatan, tak naik gaji atau dikeluarkan. Kita hanya jadi "kerbau penurut" yang bergerak ke kiri atau ke kanan karena atasan kita yang menyuruhnya.
Kita lupa, bahwa Tuhan mendukung idealisme dan konsistensi kita. Bob sudah jadi contohnya.
Maka, mulai hari ini : temukan lagi idealisme dan konsistensi kita. Percayalah bahwa rejeki tak datang secara cuma-cuma, atau datang karena perintah bos kita. Rejeki datang karena kita sendiri yang memperjuangkannya. Hidup ini bukan sekedar uang -mengutip kata Bob- dan saya percaya.
Semoga anda juga percaya.
Belajar dari Teman saya, Rudi

Profilnya cukup kondang sekitar lima tahun lalu. Majalah atau suratkabar mana yang tidak memuat sosok gagahnya, dengan jas dan dasi, menerima berbagai penghargaan atas prestasi yang cukup moncer dalam bidang pemasaran. Lima belas tahun dia berkarir di perusahaan hebat itu, dan kirinya melesat cepat.
Sebut saja, sahabat saya ini, namanya Rudi. Kemarin sore sosoknya kelihatan jauh berbeda dengan penampilannya di media beberapa tahun silam. Kurus, dengan muka tirus pucat pasi : menghapus semua kesan sukses yang melekat di parasnya. Dia terbaring sakit. Kata sang istri, Rudi menderita sering sakit setelah berbagai usaha yang dijalaninya gagal, dan membawa ke jurang kebangkrutan. Dalam sakitnya, Rudi masih sering bangga dengan prestasi masa lalunya, dan itu yang memperparah keaadannya.
Rudi adalah sosok berprestasi di perusahaannya, dulu. Beberapa peluncuran produk baru yang ditanganinya hampir selalu sukses. Dia organisatoris yang baik, jangkauan "kuasanya" adalah memanajemeni hampir 25 orang anak buah yang sudah terkenal handal. Kombinasi yang pas : bos yang hebat, anak buah yang handal dan perusahaan (dengan merek produk) yang kondang.
Hingga saat itu tiba. Perusahaan tempatnya bekerja diakuisisi oleh sebuah mogul bisnis mancanegara. Rudi, tak seiring dengan bos barunya, dan memutuskan mengambil program pensiun dini : dengan penuh keyakinan akan keberhasilan, berbekal reputasinya di masa silam.
Hidup yang baru sudah dimulai.
Dalam kurun lima tahun terakhir, dengan uang pensiun dini yang didapatnya, dijalaninya beberapa usaha. Joint dengan teman-teman atau bekerja sendiri. Dari distributor produk perusahaannya dulu yang kemudian hancur lebur, hingga -saat jatuh sudah sampai dasar- Rudi berkeliling berjualan sepatu di event-event musiman.
Nyaris, tak ada lagi bekas kepiawaiannya yang dulu banyak diganjar penghargaan.
Rudi, jatuh dalam jurang kekecewaan yang dalam. Jangankan mantan atasan, tak seorangpun mantan anak buah yang dulu disebut handal : datang menengok dan memberinya semangat. Hanya istrinya yang setia menemani dan terus memompanya dengan semangat. Rudi jatuh dalam penyesalan, bahwa apa yang telah diputuskannya salah besar. Dia merasa telah kehilangan kuasa, teman dan dukungan merek terkenal (yang dulu didapatnya dari perusahaan).
Mendapatinya kini dengan badan kurus, mka tirus dan pucat : saya sangat iba.
Dapatkan kita tarik sebuah pelajaran dari Rudi, yang manager penjualan hebat dari sebuat perusahaan terkenal itu. Dulu, semua meng-elukannya, bos, anak buah, teman dan relasi. Dulu semua memuji dan menghargai; tapi kini dia terseok di pojok yang sepi.
Sering dalam kehidupan, kita terlena akan sebuah "penghargaan semu". Cobalah berkaca, jabatan kita di kantor membuat atasan kita memuji dan anak buah kita menghargai. Semua klien menerima kita dengan besar hati.
Tapi, apakah sikap itu ditunjukkan pada kita : sebagai diri kita sendiri? . Prestasi kita sebenarnya adalah prestasi dari perusahaan atau produk yang kita tangani.
Kita dibelenggu oleh prestasi masa lalu, dan celakanya. banyak dari kita hanya bangga saja dengan masa lalu, tanpa tahu masa depan akan seperti apa. Sehingga banyak kesempatan besar di depan mata, dibiarkan lewat begitu saja.
Di dunia nyata, banyak penghargaan semu menjebak kita. Rudi buktinya. Kehandalannya "tidak berbunyi" ketika dia berada di luar sana. Dan cobalah kita ber-introspeksi, berapa banyak sahabat dan teman, yang kita ciptakan bukan dari kaitan pekerjaan kita di kantor. Berapa besar peran kita di dunia nyata, karena "diri kita sendiri", tanpa embel-embel jabatan, kehebatan anak buah, ketenaran perusahaan atau kekondangan merek produk yang kita pasarkan.
Kenyataan hidup tersulit adalah menjadi diri sendiri, dan keluar dari banyak "bayang-bayang" masa lalu. Sebelum semua terlambat -seperti Rudi- adalah baik memulai keluar dari berbagai "bayang-banyak" itu sedari dini.
Pasarkan keahlian atau produk anda sendiri dari kini, InsyaAllah, peluang anda sukses akan lebih cepat ketimbang menunda nanti-nanti. karena pada dasarnya kita hidup di masa kini untuk masa depan nanti. Selamat menjadi diri anda sendiri.
Semoga menginspirasi.
Dia bukan Dom Cobb si Pencuri Mimpi...

(ditulis sebagai salut untuk sahabatku : Handry Satriago)
Mengingat dia, saya teringat pemikiran "perlawanannya pada kemapanan" yang dikutip oleh Takashi Shiraisi dalam bukunya "Age of Motion"-puluhan dekade silam. Dia seperti seorang Tjipto Mangunkusumo, tapi dia bukan keturunan Jawa.
Tampil berkursi roda, dengan rambut gondrong kriwil dan jins sobek adalah sebuah "pembangkangan" bagi tradisi "tampilan anak kuliahan" di kampus kami dulu. Nama Handry Satriago, lebih senang dipanggil Agogo.
Jumat lalu, dengan suaranya yang khas: berat, lantang dan jernih, dia memukau kami -undangan yang hadir dalam pengukuhan gelar Doktor Stratejik Manajemen di FEUI- sekali lagi, dengan cara berfikirnya yang selalu berbeda dengan kebanyakan dari kami teman sebayanya.
Mengingatnya dulu, adalah mengingat masa-masa badung dan perlawanan dari rumah kontrakannya di -kami menyebutnya - "kamp H-14". Masa-masa menulis poster dan pamflet, mengagumi puisi Rendra dan berteriak mengimbangi "jeritan" Billy Joel dari tapedeck Sony-nya.
Dia adalah sutradara operet di malam kesenian angkatan kami, dengan gayanya yang terinspirasi Nobertus "Nano" Riantiarno. Dia akhirnya menjadi simbol gerakan "berbeda adalah hal yang biasa". Dia, yang akhirnya botak karena serangkaian proses kemoterapi, menjadi ikon di angkatan kami.
Dan hidup selalu berpihak pada orang yang punya mimpi besar. Ditulis di pengantar Disertasi doktoralnya " ...limitations can happen anywhere in the journey of life, but dream has to be pursued to make it come true". Prestasinya sudah melampaui kami yang dulu ikut menggendong-nya dari lantai dasar, menaiki tangga, ke laboratorium Gamtek di Lantai 4 kampus Fateta. Pencapaian mimpinya sudah jauh melampaui kami yang dulu, masih sama-sama miskin, ikut "urunan" beli soto kuning berkuah melimpah sedikit daging di depan "kamp H-14". Karena memang sejak mula, mimpinya sudah jauh lebih tinggi dari kami, para mahasiswa lurus dan biasa saja : yang diajaknya menjadi "pembangkang dari pemikiran yang biasa saja". Bahkan dalam tingkatan karier, "perlawanannya pada kemapanan berfikir biasa-biasa" membawanya pada level yang sangat tinggi : Presiden of GE Indonesia; pimpinan tertinggi di Indonesia sebuah perusahaan kelas wahid dunia.
Maka, barangkali Jumat 23 Juli 2010 kemarin menjadi sejarah besar bagi kami teman-temannya. Sudah banyak diantara angkatan kami yang menjadi doktor atau sejenisnya, tapi Agogo sudah membuktikan bahwa mimpi yang besar sudah mengalahkan segala rintangan : dan itu menjadikannya sebuah sejarah besar.
Maka mengutip kata-kata Dom Cobb (Leonardo Di Caprio) dalam film INCEPTION (2010) :" If you think that you can't get what you want in your reality life so just dreams about it, keep dreaming, until you wake up and you feel happy about it. So, just build your dreams like horizon...."
Bro Handry Agogo: saya kira anda bukan Dom Cobb, tapi itulah kata-katamu dulu. Saya harus berterima kasih pada Tuhan mempertemukan kita dalam sebuah "persimpangan jalan", di tengah banyak "persimpangan jalan" lain yang mempertemukan saya dengan orang-orang dengan banyak kelebihan tapi hanya bisa mengeluh berkepanjangan.
Jangan bosan menjadi inspirasi buat kami yang penuh kelebihan ini.
Sabtu, 03 April 2010
Doa Untuk Sebuah Perjalanan (1995)
dentang belnya yang bergema
kibar tirainya putih-putih seperti tak bosannya
dimainkan oleh angin yang denganku sama nakalnya
Tak ada lagi persinggahan lagi bagiku
selain bangku hitam berbunga yang semakin tipis busanya
dengan meja kecil yang berkaca
vas bunganya dulu ada, sekarang entah dimana
Ada beberapa lagi lagi yang sempat kuingat
dering telpon di atas meja sana
suara televisi di bawah ruang tamu kita
dan kamar depan kursi kita (yang engkau tahu milik siapa)
Ocha, selamat pagi..selamat pagi kataku
Hari cerah bukan?
Angin bertiup lembut membelai wajah dan bagian atas rambutmu
seperti waktu itu, saat kita pertama kita ketemu
Jalanan yang becek dulu, sekarang tak ada bedanya
deretan ruang telepon, bank dan warung-warungnya
semakin menjauhkan aku dari kenyataan
bahwa beberapa tahun lalu aku pernah hidup di sana
Dari kebaikan para jurumasak dengan batagor dan soto babatnya
kutemukan arti hidup dan cinta
kutemukan wanita yang memberikan kasihnya
kutemukan orang-orang dengan perhatiannya
Adakah aku sudah cukup berdoa
supaya mereka mendapat balasan dari-Nya
supaya mereka dapat vmenjadi lebih baik hidupnya
atau agar kami, engkau dan aku, dapat melanggengkannya
Bisakah sebenarnya aku hitung dalam silang gemintang
daunan hijau ditingkah riak air danau di perpustakaan
warna pucat lantai di depan laboratorium kita
serta rasa es kelapa yang dijajakan di kantin sapta
Tidak.
Aku hanya menghitung dosen yang pernah mengajarku
aku hanya mengingat dimana praktek lapangku
Dalam deru seru anak-anak mekanisasi
dalam buai bentakan kakak kelas kami
sebenarnya, waktu itu, tak jelas apa yang kami cari
adalah ilmu pengetahuan, atau pelajaran menanti rejeki
Senja pengap di jalan Bara
aroma mie ayam bercampur debu galian
yang dirangsang laju angkot yang berseliweran
dan adik-adik kelas kami yang sibuk memfotokopi
Langit yang cuma sepotong menemani,
bersama sekerat biskuit dan komputer sewaan
untuk sebuah karya yang bernama skripsi
demi sebuah sebutan yang bernama gelar
Di kejauhan orangtua-orang tua kami tersenyum
di sini kami anak-anaknya tertawa-tawa
sambil mengolah data
menjadi tumpukan kerja, yang kami harap nanti berguna
Deret tonggak berlampu natrium
kawat-kawat terentang
menghubungkan suara-suara kita
serta zat asam yang kemudian berubah menjadi zat asam arang
kapankah, engkau Darmaga, bisa menjadi saksi-saksi cinta kita
Ocha, Kini setelah nyaris setengah windu perjalananmu
segala tentang cinta, harapan dan cita-cita
semoga menjadi realita
seperti kibaran tirai, pintu dan kursi yang stia menemani kita
Setelah tahun-tahun berbadai
meneteskan aneka tawa dan duka
suatu saat akan kita torehkan
pesan-pesan alfabetis nama anak-anak kita
pada gelombang yang menyisir pantai
pada langit, angin, sawah dan kota
dengan kerja berat, dengan hati yang kuat
Selamat pagi dunia
Selamat malamku,
Selamatkan siangku,
Tuhanku
---------------------------------------------------
Ditulis sepanjang perjalanan saat perjuangan mengawali masa depan: di Ponytail, di kamp perjuangan MEGATIN dan di Sindangbarang Loji. Darmaga-Bogor, 7 April 1995 (Kami tak pernah tahu, bahwa 3 tahun-lebih 3 hari dari dituliskannya puisi ini : kami menikah)
Sabtu, 13 Februari 2010
Pak ASEP : Di Kedai Kopi Tubruk , dekat stasiun kereta

Saya belum pernah ketemu dengan dia sebelumnya. Biasanya, setiap kali saya nongkrong menunggu kereta di stasiun Dukuh Atas (sekarang namanya stasiun Sudirman), hanya istri dan Hendra –anak laki-lakinya- yang setia menjerang air dan menyeduh kopi tubruk pesanan saya.
Dari kerut-merut kulit di wajahnya, saya taksir usianya tak kurang hampir sepuluh windu panjangnya. Saat itulah dia mulai panjang bercerita-seolah kami berteman lama- bahwa dia – pak Asep yang renta ini – sudah tiga dasawarsa mencoba menaklukan ibukota.
Masa kecil, dilaluinya di lereng sebuah gunung di Tasikmalaya, perlu waktu 3 jam untuk turun ke pasar Singaparna. Dua kali seminggu, lepas pukul dua malam, dia berjalan kaki bersama ayah tercinta menuju pasar untuk berbelanja. Dikisahkannya, sepanjang jalan ayahnya banyak bercerita, berdialog dan menembang beberapa lagu sunda untuk mengisi suasana. Banyak kisah diceritakan, disela peluh yang membasah karena perjalanan yang panjang ke bawah.
Ketika itu-katanya-jaman hidup dengan damainya. Setiap maghrib surau penuh dengan manusia, sholat berjamaah, lalu mengaji bersama. Tak tua, tak muda. Jaman itu, tak ada yang punya mobil atau kereta. Harta paling mewah hanya sapi atau kerbau kandang, dan deretan sawah di ujung-ujung desa.
Panen hanya dua kali dalam setahun; dan setiap kali panen ada cukup simpanan beras untuk panen berikutnya. Tak perlu pupuk, tak perlu pestisida. Orang-orang sehat mencapai umur tertuanya, hingga ada yang berumur seratus tahun, katanya. Anak-anak berangkat pagi ke sekolah dengan riang, bertelanjang kaki melewati ratusan petak sawah gembira. Hidup tak ada yang menderita.
Kini jaman sudah berubah. Dengan keringat yang diperas, panen padi setahun bisa tiga kali. Tapi heran, tak cukup beras untuk disimpan hingga menjelang panen berikutnya. Pupuk, pestisida makin mahal, dan kebutuhannya melonjak luar biasa. Mengadu nasib di ibukota, tak lagi jauh beda. Dulu, dua dasawarsa lalu, bekerja satu hari bisa untuk makan tiga hari. Tapi kini kebalikannya, memeras peluh tiga hari, hanya cukup untuk hidup satu hari saja.
Di kampung, orang sudah bermobil dan bersepeda yang ada motornya. Rumah sudah bertembok, tak ada lagi atap rumbia. Tapi, maghrib surau dan masjid sepi, karena anak-anak sedang “sibuk mengaji” di depan tivi, menatapi film dan sinetron masa kini.
Anak-anak cepat tumbuh dewasa, tapi orang dewasa lebih cepat mati. Tak ada lagi, kakek atau nenek yang berusia hingga satu abad. Di ruangan tengah rumah bertembok tak ada lagi gurau, canda dan interaksi sanak sebagaimana dulu. Semua orang pergi ke kota, sibuk bekerja. Untunglah masih ada hari Lebaran.
Tekanan jaman, membuat desa pak Asep –katakan begitu namanya- juga dilanda penyakit kota bernama stress dan depresi. Anak-anak kehilangan hormat pada orangtua, anak-anak tertekan oleh lingkungannya. Kabar miris –kisah pak Asep selanjutnya – seorang anak mati bunuh diri karena takut tak lulus ujian negara.
Maka, dari bawah kolong jembatan dekat stasiun Dukuh Atas ini pak Asep –sebut saja begitu namanya – ingin kembali bernostalgia. Memiliki pemimpin yang peduli pada rakyatnya, pemimpin yang bisa menurunkan harga minyak dan beras untuknya, pemimpin yang tak hanya baik saat kampanye dan menjelang pemilu saja.
Dalam perjalanan di dalam kereta ber-AC setelah berpisah dengan pak Asep yang renta, berfikirlah saya yang masih beruntung bisa membeli mie instan buat anak-anak saya, membelikan seragam sekolah dan mainan untuk mereka. Hidup buat pak Asep, dan Pak Asep-Pak Asep lainnya memang sulit kita duga kedalamnya. Kita Cuma bisa bersyukur sambil menduga-duga. (Ditulis di Bogor, 29 April 2009)


