Kamis, 19 Maret 2009

Selamat Tinggal Surat Kabar “Seattle P-I”

Demikian judul sebuah berita di Kompas (19/03/09) halaman sepuluh. Harian ini – Seattle Post Intelligencer- sudah terbit selama 146 tahun, dan mulai selasa kemarin tutup untuk kemudian terbit dalam versi on line. Keputusan tutup, karena alasan managemen sudah tak kuat lagi bergulat melawan pendapatan iklan, sirkulasi yang makin turun. Pembaca dan pengiklan “lari” ke internet.

Ditambahkan lagi, laporan dari Pew Project for Excellence in Journalism menggambarkan industri surat kabar AS tengah mengalami “sangat dekat dengan terjun bebas”; dikarenakan pembaca dan pemasang iklan beralih ke internet.

Lalu, bagaimana kita di Indonesia?

Mau tak mau, suka tak suka; sejarah komersial industri surat kabar di Indonesia “mirip” dengan apa yang telah terjadi di Amerika. Bedanya, Amerika “duluan” ketimbang kita, jadi bagusnya, kita bisa belajar dan mengantispasi potensi bahaya. Bagaimana tidak? Era kejayaan koran sore di Amerika saat boom-nya revolusi kerah biru, yang kemudian keok dan mati suri saat lahirnya generasi kerah putih mirip sekali dengan kejadian kita di Indonesia.

Tapi, apakah koran-koran kita akan ambruk karena pembaca dan pengiklan boyongan mengkonsumsi internet? Saya rasa tidak.

Tantangan media cetak (khususnya koran) kita saat ini belum lagi sampai ke sana. Banyak koran baru datang dan pergi, terbit sekali lantas mati. Sejauh yang saya amati, dan saya tahu : kira-kira penyebabnya :

1. Secara umum, kebanyakan investor atau orang yang memodali koran bertemu dengan wartawan atau orang-orang dengan latar belakang redaksi, tentu saja factor akses sangat mempengaruhi hal ini. Repotnya, tak banyak wartawan yang benar-benar tahu soal seluk beluk teknis manajemen media, menguasai soal rimba periklanan apalagi dunia antah berantah bernama sirkulasi. Akhirnya, semua perencanaan diserahkan pada kata berjudul Asumsi. Selain itu stok orang yang mengerti benar soal manajemen –terutama hal pemasaran – media cetak tak banyak. Akibatnya, semua menjadi salah perhitungan; bisnis koran yang seharusnya marathon digeber dengan gaya sprint. Walhasil kehabisan napas di tengah lintasan.
2. Tidak ada sekolah untuk tenaga pemasaran dan manajemen untuk koran. Bisnis ini sangat spesifik. Bayangkan, kita harus menjual produk yang umur pakainya kurang dari 3 jam, setiap hari ada produk baru, susah dijual di took atau jaringan title umumnya, sehingga harus langsung dijual di jalan : aatau diantar ke rumah. Makanya, banyak investor atau eksekutif yang baru terjun di dunia ini tergagap-gagap. Sudah begitu-buat sebagian besar rakyat di negeri kita - barang ini bukan barang kebutuhan primer. Alhasil, ketika musim anak sekolah, penjualan turun; ketika musim hujan, barang retur banyak….
3. Tataniaga sirkulasi koran yang sudah terlanjur carut marut. Dulu, ketika koran memang masih murah, menjadi agen koran adalah profesi yang menjanjikan. Keuntungan menjadi agen koran, sudah banyak memberangkatkan haji agen-agen, bahkan menyekolahkan anak-anak meraka (hingga keluar negeri, bahkan !) Kini saatnya barang-barang dijual mahal, koran jusru dibanting murah oleh para penerbit. Dilematis memang. Kalau dijual mahal, pembaca ogah beli, dijual murah agen dan pengecer kelimpungan.
Saat ini, sisi paling marginal dari bisnis koran adalah agen dan pengecer koran. Bayangkan, dulu seorang agen dengan menjual selembar koran bisa mendapatkan paling tidak keuntungan 100 rupiah. Pengecer bisa dapat lebih besar dari itu.
Tapi kini, mendapatkan 25 rupiahpun sulit. Artinya, sebenarnya resiko yang ditanggung agen sangat besar –apalagi ditambah kebijakan penerbit yang ketat- karena kelingan 1 koran seharga 500 perak, artinya keuntungan berjualan 20 koran akan lenyap seketika.
Itu kenapa, banyak agen terjerat hutang pada penerbit, boro-boro bisa membantu penerbit mengembangkan pasar, untuk memikirkan belitan hutang saja sudah pusing.
Tataniaga ini diperparah dengan banyaknya tenaga sirkulasi yang tidak memahami kondisi ini, strategi yang dibuat cenderung makin menghancurkan jaringan distribusi. Repotnya lagi, di sini banyak petualang yang melihat kondisi ini sebagai peluang untuk memperkaya diri sendiri dengan korupsi dan manipulasi.
Di sisi lain, jaringan keagenan makin tua, karena tak ada kaderissasi. Mengapa? Karena generasi penerus keagenan sudah tidak lagi tertarik dengan bisnis ini.

Belum lagi persoalan iklan. Banyak koran baru juga terjebak keinginan mendapatkan porsi besar kue iklan dari biro iklan. Mereka, biasanya, akan terjebak pada data Readership Nielsen dan belum tercantumnya koran mereka di situ. AE Iklan yang ada kurang jeli melihat peluang, karena koran baru, biasanya hanya berani menggaji AE baru yang notabene masih hijau di lapangan.

Maka terjadilah “Trickle Down Effect”. Ketika koran baru terbit, digeber layaknya lari sprint; baik di promo maupun cetak. Karena tak terdistribusi dengan baik (alias tak jeli memilih jaringan) maka koran tak terlihat dan pada akhirnya tak pernah laku. Karena koran tak terlihat, pengiklan meragukan eksistensi si koran. Walhasil modal makin tipis, cetak makin dikurangi, iklan makin seret. Akhir cerita : matilah itu koran.

Jadi, berbeda dengan Amerika : belumlah sampai soal pembaca yang lari, faktor internal koran itu sendiri yang masih sangat berperan, apakah akan bertahan atau mati. Koran anda sendiri bagaimana?

Senin, 09 Maret 2009

Gogon Kebakaran Jambul


Dalam casting grup legendaries SRIMULAT, dikenal seorang tokoh bernama Gogon. Kumisnya ala Charlie Chaplin, posturnya tipis, petentengan dan satu lagi ciri paling khas-nya jambul di kepalanya.

Jadi, saya bayangkan; bila di-pameo-kan orang gusar sebagai kebakaran jenggot, maka Gogon akan kebakaran jambul (karena tak punya jenggot).

Tulisan saya yang berjudul “Only The Good, Die Young” yang saya posting seminggu lalu : ternyata memancing banyak sekali komentar baik di milis maupun facebook (lokasi-lokasi saya mem-posting tulisan tersebut). Sebagian besar komentarnya setuju soal segala yang tertulis di dalamnya, terutama soal kepribadian almarhum yang akrab, baik hati dan jenaka.

Namun, empat hari lalu, seseorang yang memakai nama samaran Gogon Lebay, menuliskan kegusarannya pada saya –via japri- dan menembuskan e-mailnya tersebut kepada petinggi-petinggi harian Seputar Indonesia. Rupanya, ada Gogon gusar yang kebakaran jambul.

Dalam kegusarannya, Gogon menulis soal “kegilaan” saya, karena dianggapnya tulisan tersebut “mempolitisasi” orang yang sudah meninggal. Di akhir e-mailnya, Gogon mendamprat saya dengan sebutan Sakit Jiwa.

Dampratan Gogon soal sakit jiwa ini –walaupun tak 100% relevan-- selalu mengingatkan saya pada tiap sesi pertemuan, sesi mengajar di berbagai forum yang saya isi, tentang pertanyaan “mengapa memilih membuka usaha sendiri yang tidak pasti masa depannya, ketimbang bertahan sebagai General Manager dengan gaji dan fasiltas menawan”. Mereka menduga, saya kena sakit jiwa….sakit jiwa akut.

Barangkali indikasi Gogon ada benarnya. Tak sekedar sakit jiwa –di jaman serba krisis ini- saya adalah penderita sakit jiwa akut. Saya terobsesi pada kebebasan dan kemerdekaan : untuk berekspresi dan mengeksplorasi ide. Saya terobsesi untuk terus menegang urat avonturir dan menderas adrenalin untuk mencoba hal baru, dan kalau bisa yang tak biasa orang lain lakukan.

Tahun 2002, saya berangkat ke Desa Pesurungan Lor, tak jauh dari terminal kota Tegal (Jawa Tengah) untuk belajar soal beternak bebek. Hanya berbekal buku yang dibeli di Gramedia, dengan modal ilmu seadanya : saya memutuskan istirahat dari kerja kantoran membanting setir jadi peternak bebek. Tiap pagi, bergelut dengan kotoran 600 ekor bebek, tiga kali sehari mengaduk dedak, konsentrat dan vitamin serta tiap sore mengantar telor ke tukang jamu dan tukang martabak langganan. Hasil dari membuka usaha, dengan hanya berbekal kemauan, kerja keras tapi pengetahuan yang sangat kurang adalah : Gagal Total.

Tak usah meratap, demikian kata buku La Tahzan. Kegagalan beternak bebek, walau getir tak pantas diratapi. Sambil bekerja lagi di sebuah koran local milik grup Kompas, dirintislah usaha jasa distribusi dan iklan. Pelajaran nomor dua : bisnis dengan pengetahuan yang cukup, modal yang cukup namun tanpa pengawasan serta keterlibatan maksimal juga berakibat : Gagal Total.

Akhir tahun 2004, paska lebaran, Seputar Indonesia (SINDO) memanggil. Lagi-lagi dimulai usaha baru, sambil bekerja : menjadi distributor produk air kelapa olahan (Nata de Coco). Jangkauan wilayahnya cukup lumayan : Jawa Barat dan Banten. Namun, satu hal lagi pelajaran didapat. Usaha dengan pengetahuan cukup, modal cukup, pengawasan cukup ; tapi tanpa manajemen keuangan yang baik mempercepat bisnis kolaps alias gagal total.

Hingga akhirnya, tahun 2006. Adanya pergeseran visi di perusahaan tempat bekerja, serta didorong keinginan untuk menjadi manusia yang merdeka : maka diambillah langkah yang biasa diidap para manusia penderita “sakit jiwa akut” : keluar kerja, meninggalkan jabatan beserta segala fasilitasnya , untuk menegakkan sebuah mimpi menjadi manusia burger. Di tahun itu saya resmi menjadi penjual burger.

Tahun telah lama berganti. Segala kegilaan, segala jatuh bangun kini hampir terbayar. Saya, tak akan pelit berbagi apapun ilmu kepada anda, karena pada dasarnya yang saya bagikan adalah bagian yang disebut “sakit jiwa akut” tadi. Saya mengembangkan usaha ini, berbagi kesempatan bermitra dengan anda : dengan kondisi yang anda bisa lakukan dengan cara termudah serta biaya termurah. Anda tak perlu lagi memulainya dari angka 0 untuk menuju skor 10. Saya akan tularkan dengan segera ke-“sakit jiwa”-an tadi, supaya anda bisa juga menjadi pribadi sukses. Karena katanya, sukses itu hak setiap orang, bukan monopoli oknum tertentu di dunia ini.

Jadi, kalau Gogon - yang sudah kehabisan order manggung- ini bilang: saya sakit jiwa…wah, saya harus ralat : saya ini penderita sakit jiwa akut. Obsesi dalam otak untuk membuat usaha saya bisa membantu banyak orang sukses sangat menggila, sangat memeras adrenalin dan menegang urat adrenalin.

Perlu sedikit kegilaan untuk bisa sukses : demikian kata para senior dalam buku-buku mereka. Tinggalkan kebiasaan menjadi pribadi yang berfikir biasa-biasa, pribadi yang gagal, pribadi penuh kritik tanpa solusi dan tanpa resolusi.

Maka-akhirul kata- semoga anda juga sukses.

Selasa, 03 Maret 2009

Only The Good Die Young (In Memoriam ARIS AHMADI)

Sejauh yang saya tahu, namanya Ahmadi. Tapi semua teman-temannya memanggilnya Aris. Perawakannya yang tinggi besar, seringkali, menakutkan bagi orang yang pertama kali mengenalnya.

Saya mengenalnya 15 tahun lalu, di Republika. Seperti juga orang yang pertama kali mengenalnya, saya juga rada takut melihat penampilan luarnya. Namun, tak perlu waktu lama untuk tahu bahwa : Aris yang teman yang jenaka dan setia.

Selama empat tahun kami menjadi rekan sekerja. Banyak hal yang saya ingat soal dia. Aris seorang pekerja keras, dulu dia adalah penjaga gawang Administrasi Sirkulasi di Republika (bersama temen karibnya : Mas Uyanto atau mas UY kami biasa sapa). Ratusan nomor registrasi agen dihapalnya luar kepala, itu yang membuat kami kagum kepadanya.

Karena tinggal di Bojonggede-yang kebetulan sejalur dengan saya- tak jarang kami berada di kereta yang sama saat berangkat kerja. Kebiasaan kami sama, datang pagi-pagi karena takut terlambat karena ketinggalan kereta dan pulang tepat waktu, supaya bisa naik kereta yang sama: kereta yang berangkat 17.46 dari Stasiun Pasar Minggu Jakarta. Perawakannya yang besar cukup membantu saya menaklukan desakan para penumpang lainnya. Setiap sore sepanjang empat tahun lamanya, kami bersama berlari keluar dari basement Republika, mengejar angkot yang sama menuju Stasiun Pasar Minggu untuk kemudian bermandi peluh dalam kereta.

Tahun 1998, kami mengambil persimpangan yang berbeda. Saya keluar dari Republika dan Aris masih setia didalamnya. Hingga tahun 2004, kami dipertemukan kembali dalam di sebuah persimpangan yang sama. Seputar Indonesia.

Aris di Seputar Indonesia, tidak serta merta menjadi Aris yang berbeda. Ketekunan, kepolosan dan kesetiannnya masih ada, tak hilang dibilas waktu.
Di Seputar Indonesia, kami berada di lokasi kerja yang sama, namun dalam posisi yang sudah berbeda. Tapi bagaimanapun kami adalah teman lama.

Perjuangan di Seputar Indonesia, adalah perang di lapangan yang pertama baginya. Jaringan distribusi yang dibinanya (wilayah Bogor) di tekan habis oleh KOMPAS (yang dimotori oleh Manager Sirkulasinya : Sugeng Hari S beserta bala kurawanya). Aris, kadang masih tergagap menghadapi itu semua. Maklum, ini adalah perang pertamanya. Kami, temen-temennya tak henti selalu mendukung dan mendorongnya, untuk terus maju-bersama- memenangkan peperangan.

Dengan “bambu runcing” seadanya kami berperang melawan kedzaliman ideology KOMPAS – yang direpresentasi oleh tim sirkulasinya- yang melarang agennya menjual SEPUTAR INDONESIA. Tak Cuma kami, agen-agen juga diam-diam mendukung kami. Aris berada di dalam tim kami, semangatnya tak putus tak henti.

Jaman terus bergulir, waktu terus berjalan. Kembali, kami mengambil persimpangan yang berbeda. Tim Kompas yang dulu menjegal kami saat memperjuangkan SINDO –karena tak lagi dipakai lagi di sana – berbalik masuk ke SINDO; dan menjadi atasan langsung Aris. Jaman menjadi serba paradoks. Sebagian besar pasukan militan yang sempat menjadi teman-teman Aris memutuskan keluar dari Komando peperangan karena tak mau dipimpin oleh tim yang dulu menjegal mereka. Namun, Aris dengan segala pertimbangannya, memilih untuk tetap tinggal di dalam.

Kami hormat dan respek atas segala keputusan yang telah diambilnya. Walau sudah berada di beda persimpangan, kami tetap teman bagaimanapun juga. Tapi itu awal yang berat baginya.

Dua kali sejak kami tak lagi sering bersua, Aris kambuh penyakit jantung yang telah lama diidapnya. Dua kali pula, Aris sampai harus menjalani perawatan di Rumah Sakit. Beberapa kali saya mendengar keluh kesahnya. Dari soal pekerjaan yang makin lama menghimpitnya, atasan-atasan yang tak tahu harus berbuat apa untuk membantunya, hingga rasa ditinggalkan oleh temen-temen lama.

Padahal kami tak meninggalkannya. Berupaya untuk bisa hidup di kerasnya Jakarta, kadang membuat kami abai untuk bertegur sapa.

Hingga kemarin-Senin 2 Maret 2008, saya mendengar kabar, Aris teman baik saya, Aris yang polos, baik hati, setia kawan dan jenaka telah pergi meninggalkan kami selamanya. Penyakit jantung yang diidapnya kambuh, dia meninggal di pelukan mbak Evi-istri tercintanya. Usainya belum lagi 41 tahun saat meninggalnya.

Aris, kami tak akan bisa lupa. Mulai saat ini dan besok -dalam setiap kesempatan dan perjuangan, akan kami jadikan engkau monumen dan teladan bagi kita semua. Perjuanganmu yang belum selesai akan kami lanjutkan. Maafkan kami -teman-teman lamamu- yang mungkin telah abai. Kami adalah teman-teman lama, dan akan tetap menjadi teman dalam doa. Karena kami, sesungguhnya tak punya apa-apa.

Selasa, 30 Desember 2008

Pak Oman, Inspirasi saya


Tadi malam, di tengah tumpukan onderdil mobil dalam sebuah bengkel milik kawan saya Cipto di bilangan Warung Buncit Jakarta, saya bertemu seorang kawan lama. Oman Supratman namanya-atau kami lebih sering menyapanya : kang Oman.

Sosoknya kecil tak istimewa, kulitnya legam tidak menggambarkan aslinya sebagai urang Tasik tulen. Saya sempat sekantor dengannya, empat belas tahun lalu, namun tak lama. Dulu sosoknya dikenal bengal dan suka berbuat seenaknya. Mabuk di klab malam adalah hal biasa, sorot matanya yang tajam adalah satu-satunya yang bisa membuatnya berwibawa di mata klien-klien kami dulu di Republika. Oya, di kalangan agen-agen Koran di ibukota, namanya tak asing di telinga, karena pengalamannya. Sudut tikus mana di kota Jakarta yang tak dikenalnya? Rasanya tak ada. Itulah pak Oman yang dulu saya kenal.

Saya sudah lama lagi tak berjumpa dengannya, semalam, adalah delapan tahun kemudian sejak kami terakhir berjumpa. Pak Oman, sudah menjadi pribadi yang benar-benar baru buat saya. Dia sudah menjadi inspirasi buat saya.

Delapan tahun lalu, selepas dari Republika, pak Oman tak lagi memiliki pekerjaan yang tetap. Kami - teman-temannya yang kebetulan masih bekerja di Koran- menawarkan sebuah peluang bisnis yang sebenarnya tak asing dalam dunianya : sebagai rekanan distribusi. Pekerjaan ini adalah bagian marginal dalam bisnis Koran. Bagaimana tidak, pekerjaan ini menuntut pelakunya tak pernah bisa menikmati tidur malam yang nyenyak, bekerja dari pukul 11 malam, hingga paling cepat jam 4 pagi esok harinya. Tiada hari libur, keculai saat Koran memang sedang tak terbit-tak peduli hujan badai, banjir atau kering melanda dunia.

Pak Oman menerima tawaran kami –dulu- barangkali karena terpaksa. Tapi ini mengubah hidupnya. Dengan Suzuki Carry tua warna putih yang dimilikinya, pak Oman memulai segalanya. Tak canggung, selama delapan tahun, tanpa pernah libur satu haripun, kecuala saat sakit atau Koran tak terbit, pak Oman dengan setia menjalani profesi barunya ; sebagai pengusaha angkuran Koran, meskipun semua posisi masih dirangkapnya : sebagai pemilik dan sebagai sopir. Semua dijalaninya dengan ikhlas,pada akhirnya.

Tadi malam-setelah delapan tahun- saya melihat semua tempaan sudah mengubahnya. Jatuh bangun mengelola bisnis angkutan Koran, sudah menampakkan hasilnya. Kini, carry tua warna putih sudah tak ada lagi padanya, sebagai gantinya, kini dia memiliki 1 Kijang, 1 Avanza dan 2 mobil boks serta memberdayakan setidaknya 25 mobil angkutan Koran dalam jaringannya; sehingga kini; pak Oman bisa menjangkau tak hanya Jakarta, namun sampai ke Lampung dan seluruh Jawa. Kalau dulu pak Oman hanya sendirian menjalankan usahanya, kini dengan bendera CV. RBS, dia sudah memberdayakan banyak orang dan turut menciptakan lapangan kerja, bagi setidaknya 30 sopir dan keneknya.

Tapi, Pak Oman –sebagaimana delapan tahun lalu- saat dia baru memulai usaha, tetap tekun setiap malam membawa sendiri mobilnya. Posisinya sebagai bos, tak membuatnya canggung berperan sebagai sopir.

Walau tak kurang dari enam koran ibukota terkemuka, dan puluhan majalah dan tabloid telah menjadi kliennya – malam itu – saya tak melihat itu semua mengubah pak Oman menjadi sombong atau berbesar kepala. Dia tetap apa adanya. Dunia hura-hura sudah tak lagi dijalaninya, hutang kartu kredit yang melilit sudah lama ditinggalkannya.

“Segera memulai dan banyak-banyaklah berbagi”, demikian ujarnya. Sebuah pernyataan yang luar biasa buat saya yang telah mengenal sosoknya jauh-jauh hari sebelumnya. Ujarnya lagi”, Dengan memulai, berarti kita membuka pintu rezeki kita, membuka peluang penawaran-penawaran besar menghampiri; dan dengan berbagi, berarti kita membuat rezeki kita juga berguna buat orang lain”. Luar Biasa.

Kerja keras dan jujur, tetap optimis bahwa perubahan bisa diciptakan –bukan hanya ditunggu- adalah resep suksesnya. Delapan tahun tempaan mengelola usaha, dengan segala bantingan gelombang susah dan senang, tanpa pernah berfikir untuk menyerah dan berhenti- kini sudah bisa dilihat hasilnya.

Di tengah keluhan teman-teman di beberapa perusahaan Koran terkemuka seperti Seputar Indonesia yang terncam terkena PHK, dan hanya bisa mengeluh tanpa tahu akan berbuat apa, sosok Pak Oman mengingatkan saya tentang pentingnya etos bekerja keras menciptakan perubahan, tidak canggung mengerjakan apapun-asalkan halal, mengesampingkan gengsi dan tetap optimis tak mudah menyerah.

Pak Oman, acungan empat jempol saya untuknya.

Minggu, 26 Oktober 2008

Bertemu orang sukses (Part II)


Teknologi mempermudah segalanya. Dan saya membuktikannya.

Kemarin, saya berbincang cukup hangat selama dua jam lebih di sebuah kedai di Sentul, dengan teman lama yang sudah tujuh tahun tak bersua. Betley namanya.

Dia dulu saya kenal, karena kami sempat satu kantor di majalah TEMPO tahun 2000. Umurnya masih sangat muda, paling tidak dibandingkan dengan saya. Kami berbeda bagian, dan jabatan kami juga terpaut lumayan jauh. Tapi, dari gerak-gerik dan sorot matanya, memang Betley sudah saya duga akan menjadi manusia yang luar biasa. Kegigihannya kuliah sambil bekerja -dulu- cukup membuktikan bahwa Betley cukup punya semangat yang tak bisa hanya disiram dengan air hura-hura-yang biasa dilakukan anak seusianya. Namun, itu yang tak dibaca bos-bos kami di sana dulu. Betley sempat kecewa.

Kami berpisah di awal 2002, dia melanjutkan sekolahnya ke Inggris. Sejak itu kami sudah tak pernah bersua.

Hingga suatu kali, beberapa hari yang lalu, melalui situs perkawanan FACEBOOK, saya menemukan dia. Tak tanggung-tanggung, kawan saya ini sudah menjadi pemimpin tertinggi, sekaligus pemilik, sebuah perusahaan IT yang cukup disegani di Indonesia. Kami berkontak di dunia maya.

Ternyata, kisahnya tak mulus seperti jalan yang diaspal hotmix. Tekad untuk tak tergantung pada orang lain, membulatkan niatnya untuk menjadi seorang entrepreneur. Bermodal uang pinjaman, dia jalani hidup di Jakarta yang keras (sepulang dari Inggris) menjadi freelance consultant. Posturnya cukup tambun, tapi dia tak punya pilihan selain menjadi motoris. saya bayangkan itu sangat menyiksa, tapi itulah Betley si Pejantan tangguh.

Hidup dijalani dengan keras, penghasilannya bahkan kadang tak cukup untuk makan. Tapi itulah hidup, katanya dalam blog pribadinya : sopo sing ubet, ngliwet. Siapa yang mau bekerja keras, yang bisa menanak nasi. Tempaan hidup tidak membuat Betley menyerah, justru memacunya menuju level tertinggi.

Kini--- setelah jungkir balik : diremehkan dan disepelekan orang --- hampir semua bank papan atas di Indonesia telah menjadi kliennya, bahkan sebuah bank syariah terkemuka mempercayakan sistemnya dibangun oleh perusahaan yang dipimpin Betley. Hak franchisee sebuah lembaga pendidikan juga telah dimilikinya. Kini Betley telah menikmati hasil kerja keras dan tempaan cobaan yang diterimanya. Dia menjadi kuat dan berhasil.

Dan kemarin, saya menemukan Betley telah menjadi pribadi yang sukses. Dengan segala mimpi dan obsesinya, yang pasti akan dikejarnya. Dan, sebagai teman, saya hanya bisa mendukung dan mendoakannya.

"Sopo sing ubet, ngliwet".

Jumat, 12 September 2008

Koran Jablay (Postingan lama)

Saya juga tadinya tak mengerti kenapa nama-nama Koran yang lumayan ngetop di
ibukota ini diberi tambahan predikat "jablay". Saya pikir tadinya ada
hubungannya dengan lagu yang ngetop dibawa oleh Titi Kamal di Mendadak
Dangdut. Ternyata bukan.

Istilah ini saya temukan dari tukang Koran yang setia mengantarkan
suratkabar langganan saya ke rumah, tiap pagi tak peduli hujan deras atau
angin kencang (maklum saya tinggal di bogor). Dia mengeluh karena
pelanggannya makin lama makin berkurang, bahkan Koran seperti Koran Tempo
dan Sindo dia sudah tak lagi memiliki pelanggan. Katanya (dengan geram),
"pelanggan saya dimakan Kompas jablay dan Sindo jablay"..

Sebuah kenyataan ironis, jaman semakin maju, teknologi penerbitan Koran
makin canggih, namun pengusaha gurem seperti tukang Koran makin lama makin
terdesak. Dia sudah kehilangan kejayaannya tergerus strategi para Koran
besar dalam memenangkan persaingan, sehingga munculah Koran Kompas atau
Sindo jablay alias dijual seribuan.

Patut diketahui bahwa strategi banting harga Koran-koran ini pernah
dipelopori oleh Jawa Pos (dan beberapa anggota grup-nya). Ketika Kompas
cetak di Surabaya dan berniat mematahkan dominasi Koran Nasional dari Timur
(Jawa Pos). Jawa Pos mensiasati dengan mengikat jaringannya (memakai
insentif, diskon dan kondisi spesial bagi agen eksklusifnya-terutama di
sektor langganan) serta menurunkan "Koran jablay" di eceran untuk menggebuk
pembaca non loyalis (di pasar eceran) agar membeli Jawa Pos ketimbang
nyoba-nyoba Kompas.

Strategi ini saya bisa pahami mengingat akar Jawa Pos di pelanggan kota
Surabaya sudah sedemikian kuatnya. Buat mereka dengan oplah (mungkin 300
ribuan di Surabaya, serta mungkin 85%-an pelanggan) membuang 10 ribu Koran
jablay untuk mengacak jalur eceran bisa jadi sangat efektif buat menghambat
pesaing , serta di sisi lain tak bakalan mempengaruhi penjualan secara
overall. Tapi jelas, pengecer goyang. Mereka lebih cenderung menjual jawa
Pos (yang sudah pasti laku) dengan harga 1000.resiko kecil untungnya sudah
kebayang; ketimbang menjual kompas (yang walaupun 100% konsinyasi) tapi
belum jelas prospeknya. Harus diakui Kompas cukup terpukul.sehingga merasa
perlu mempaketkan dengan Surya (grup-nya, Koran lokal terbit di Surabaya),
bahkan terpancing menjual dengan harga 1000-an juga di beberapa pom bensin.
Boleh dikata Jawa Pos cukup bisa membuat Kompas kalang kabut di Surabaya.


Kini Kompas mencoba melakukannya di Jakarta.

Kabarnya, ada sekitar 20ribu-an Kompas di-jablay-kan alias dijual harga
1000-an tiap harinya. Tentu dilihat dari sisi image, ini adalah langkah
yang cukup riskan.karena selain orang akan berpikir apa bedanya Kompas
dengan Warta Kota, juga pelanggan juga mungkin - sebagian-akan goyang
kesetiaannya. Berlangganan bulanan 60 ribu, beli eceran di perempatan rutin
Cuma 30ribu.

Tapi barangkali logika saya di atas dipakai juga oleh kompas, apalah artinya
20ribu eksemplar dibandingkan penjualan mereka yang 300-an ribu per hari di
Jabotabek. Pada kondisi ini, apalagi menilik strata ekonomi rata-rata
pembaca kompas-persoalan switching2 pelanggan ke pasar eceran sih sepertinya
kecil kemungkinan terjadi.

Saya menduga, langkah ini diambil Kompas untuk menjegal Sindo.

Tadinya, saya mengira sindo tetap bertahan dengan permainan mereka yang
cukup cantik di pasar eceran dengan harga 2000 plus 40 halaman (karena
kebetulan manager Sirkulasi-nya dulu eks dari Koran tempo-yang
notabene-sudah cukup pengalaman dijegal kompas sebelumnya), plus produk klas
menengah bawah (yang "by nature" memang besar). Dengan jalur distribusi
-yang menurut tim sirkulasi mereka - diambil dari layer kedua-nya jaringan
distribusi kompas, sudah bukan jadi rahasia sindo bisa tampil di jalanan.
Tapi rupanya, Sindo terpancing juga. Saya tak tahu apa yang terjadi di dalam
manajemen mereka, namun nampaknya langkah mereka mengikuti kompas dengan
menjual sindo edisi jablay cukup disesalkan (paling tidak oleh tukang Koran
langganan saya).

Secara fundamental, pelanggan sindo belum cukup kokoh. Kebanyakan masih
dalam tahap coba-coba, pertumbuhan pelanggannya kelihatannya juga masih
payah (lagi-lagi, paling tidak itu pengakuan tukang Koran langganan saya),
mereka masih mengandalkan penggarapan pelanggan dengan pola "jaman
majapahit" : door to door dan memberi gimmick-gimmick kuno seperti payung
dan janji2 manis datang tak terlambat dll. Dari sisi ini Sindo nyaris tak
ada inovasi. Maka, langkah mengikuti menjual 1000-an -saya duga-karena
mereka sudah pusing dan terpancing oleh strategi kompas. Kasusnya hampir
mirip dengan kompas di Surabaya.

Mestinya Sindo banyak belajar -selain dari kasus kompas di Surabaya - juga
dari kasus Koran tempo. Saat akan terbit, dengan confidence level 1000%
bisa mengalahkan kompas - dulu - Koran tempo mencoba men-drive pasar.
Bayangkan, launching pertama kali harga jual Koran diposisikan sama dengan
kompas. Harga iklan juga demikian adanya. Tapi, dukungan produk dan
-terutama percetakan - yang payah, ditambah lagi sengatan kompas di jaringan
distribusi membuat manajemennya berkali-kali gamang dengan mengubah strategi
dalam jangka sangat pendek. Belum lagi ada kelihatan efek dari satu
policy-barangkali karena juga terpancing competitor, selain karena factor
confidence level tadi - sudah ganti policy lain.alhasil jaringan distribusi
bingung setengah mati. Makin lama, Koran tempo makin tak kelihatan.bukan
apa-apa, agen-agen mulai tak percaya, pembeli juga bingung (bingung
mencari, dan bingung saat membeli karena harga berganti-ganti). Kini, Koran
tempo menjadi Koran yang aneh (karena kecil, walaupun itu menjadi gampang
dibaca di KRL yang sesak) dengan alasan trend jaman (padahal lebih untuk
efisiensi).juga kini tak punya banyak pelanggan karena agen-agen langganan
tak bisa bersaing dengan koran tempo jablay. posisi yang sulit barangkali
dihadapi oleh Tempo. Dengan positioning dimiripkan majalahnya (yang high
class, sophisticated, top over the top), sungguh terbanting kondisi koran
tempo dibanding kondisi riilnya.harga dijual 1000, dijual di KRL dan bis
ekonomi, pengiklan bertanya-tanya (ini Koran masih ada gak ya..?).distribusi
yang sangat terbatas hanya di jabotabek saja (karena masih cetak di
Jakarta). Ditambah lagi, di dalam mereka sudah mulai terserang sindrom
pabrik gula.

Ini pelajaran penting buat sindo mestinya.

Tapi apapun, jablay-jablay ini selain merugikan penerbitnya (karena
subsidi mereka makin besar), juga makin mendesak kehidupan bisnis adalah
para agen, loper dan pengecer. Menjadi agen Koran -rupanya-bukan lagi
sebuah usaha yang prospeknya cerah dan menguntungkan; apalagi dengan kondisi
penerbit yang mulai abai kepada jaringannya dan sibuk dengan subsidi yang
makin besar, pengiklan yang makin kritis dan strategi yang maju kena mundur
kena.

Tapi juga, barangkali saya yang tertinggal arus kereta jaman .

Bogor, 12 November 2007



Basri Adhi

Veteran Tukang Koran

Selasa, 19 Agustus 2008

OCHA pergi ke China


Beberapa sahabat mengirin sandek hari ini..."wah, selamat jadi bujangan seminggu"..demikian gurau mereka. Ya, memang seminggu ini, Ocha istri saya berada di China.

Ketika kemarin dulu saya sampaikan kabar bahwa istri saya berangkat ke China-karena penghargaan atas prestasi kerjanya-banyak teman tak percaya.

Karena istri saya bekerja di perusahaan asuransi. Asuransi Jiwa, lagi...dengan memulai sebagai agen. Profesi yang hina bagi sebagian orang. Tapi, kami adalah pasangan yang ingin selalu keluar dari kerumunan. Orang-orang berkerumun di dalam kereta atau bus tiap jam 6 pagi, dan kembali berkerumun nanti jam 7 malam; maka kami menghindarinya. Orang-orang berkerumun menunggu jatah yang dibagikan tanggal 25 tiap bulan di depan ATM, maka kami juga ikut menghindarinya.

Kami berusaha menciptakan jalan yang kami rintis sendiri, mencari jalan ideal yang menjadi impian kami sendiri (atau belakangan jadi impian orang lain juga).

Hasil kerja 8 tahun terbayar sudah, setalah jalan-jalan ke Bali beberapa waktu lalu, di Beijing, Ocha-istri saya- berkesempatan menonton Olympiade gratis, berjalan-jalan ke Great Wall dengan bekal dibayarin, dan menginap di hotel berbintang tanpa harus memeras otak ketika membayar. Semua menjadi fasilitas yang "harus dinikmati"

Ini adalah bayaran dari kerja keras 8 tahun, dan tak ada yang instan. Karena hanya indomie yang instan. Tahun depan ada beberapa impian yang akan kami gapai, dengan segala upaya...yang kami usahakan keluar dari kerumunan. Dan yang pasti harus halal.